Lebih Kristen

Oleh: Terong Gosong
Pasti banyak yang sudah nonton “Witness”, sebuah filem yang dibintangi Harrison Ford. Filem itu menampilkan latar kehidupan komunitas “Amish” di Amerika serikat. Itu adalah komunitas Kristen yang begitu konservatifnya sehingga menolak segala macam “teknologi”. Mereka menolak listrik dan mesin bermotor dan ngotot mempertahankan cara hidup (termasuk soal mode pakaian) persis seperti jaman pelopornya, Jakob Ammann (1656 – 1730 M), seorang (mantan) pendakwah Mennnonite dari Swiss.

Mereka hidup berkelompok dalam perkampungan-perkampungan kecil yang eksklusif, masing-masing beranggotakan maksimal 40 kepala keluarga. Ukuran kampung ini juga bagian dari doktrin mereka, sehingga jika satu kampung berkembang sampai mendekati 40 kepala keluarga, mereka diwajibkan membelah diri. Setiap kampung dipimpin oleh seorang “kiyai” (saya lupa istilah mereka), yang menjadi pemimpin paripurna di segala bidang.

Saya diajak berkunjung ke salah satu perkampungan itu di Iowa. Pertemuan dengan salah seorang “kiyai kampung Amish” itu sungguh mengesankan –sungguh menyesal saya juga lupa namanya. Nyaris serta-merta sosoknya mengingatkan saya kepada Kiyai Abdul Wahab Husain, Sulang, Rembang. Sosok yang teramat sederhana, wajahnya keras tapi “telanjang” tanpa menyembunyikan apa-apa. Tidak punya hajat akan basa-basi dan tidak perduli tanggapan orang atas kata-katanya ataupun keadaannya. Dalam “bahasa Islam”, semua itu adalah cermin keikhlasan.

“Sampeyan muslim ya?”

“Ya”

“Dari Indonesia?”

“Ya”

Pak “Kiyai” manggut-manggut.

“Tempo hari juga pernah ada orang Indonesia datang kesini”, ia bercerita, “dua orang perempuan. Yang satu kristen, satunya lagi muslim… Tapi yang muslim malah lebih kristen ketimbang yang kristen”.

Saya tak paham.

“Kok bisa?”

“Iya! Yang kristen itu pakaiannya terbuka sekali. Roknya sungguh pendek… jauh diatas dengkul…ck ck ck… tak sampai hati aku memandangnya… Sedangkan yang muslim saja roknya panjang sampai mata kaki… bahkan mau pakai kerudung!”

Saya terperangah.

“Sungguh dunia ini sudah kebalik-balik…”, Pak “Kiyai” menggerutu sambil geleng-geleng kepala.

Selamat Natal!