Degradasi Nilai Pergerakan kaum Intelegensia (Bagian I)

Tonggak sejarah pergerakan pemuda Indonesia salah satunya adalah pendirian Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 yang sekarang kita kenal dengan Hari Kebangkitan Nasional. Namun momen penting ini tidaklah berdiri sendiri, masih ada Sumpah Pemuda yang selalu di peringati setiap tanggal 28 Oktober yang merupakan hasil dari serangkaian perjuangan-perjuangan pemuda Indonesia sejak dulu dalam usaha membebaskan diri dari penjajahan.

            Mahasiswa yang termasuk dalam golongan pemuda merupakan salah satu pemeran penting dalam setiap episode panjang perjalanan bangsa ini. Hal ini beralasan mengingat bagaimana pentingnya peran mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan dalam setiap momen-momen bersejarah di Indonesia. Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam momen-momen tersebut

            Seperti diketahui sudah beberapa kali mahasiswa menunjukan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan peradaban bangsa ini dari masa penjajahan Belanda hingga Masa orde baru, mahasiswa tidak pernah absen dalam catatan peristiwa penting tersebut.

            Mahasiswa memiliki 3 modal dasar yang membuat ia mampu disebut sebagai agent of change (agen perubahan) dan agent of social control (agen pengawas sosial) sebagai fungsinya yaitu kekuatan moralnya dalam bergerak karena pada intinya apa yang dibuat adalah semata-mata berlandaskan pada gerakan moral yang menjadi idealismenya dalam bergerak. Kedua adalah kekuatan intelektualitasnya, melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki dari bangku perkuliahan yang senantiasa diaplikasikan untuk gerakan moral dan pengabdian kepada masyarakat, karena ilmu merupakan amanah dan tanggung jawab yang harus diamalkan. Ketiga adalah mahasiswa sebagai seorang pemuda memiliki semangat yang merupakan karakter alami yang pasti dimiliki oleh setiap pemuda secara biologis, dimana melingkupi kekuatan otak dan fisik yang bisa dikatakan dalam titik maksimal, lalu kreatifitas, responsifitas, serta keaktifannya dalam membuat inovasi yang sesuai dengan bidang keilmuannya.

            Ironisnya, mahasiswa saat ini tidak seperti yang sudah diteorikan diatas, mereka cenderung bermental pragmatis, apatis dan hedonis. Terkikisnya nilai pergerakan itu karena mereka cenderung cuek dan senang mencari jalan pintas (instan) serta enggan dalam berproses. Mereka saat ini lemah, kurang gigih, dan kehilangan identitasnya sebagai mahasiswa. Mereka terlalu diarahkan kedalam bidang akademis sehingga lupa akan fungsi sosialnya. Belum lagi jika harus dikaitkan dengan masalah lain seperti pergaulan bebas, kasus tawuran, pengguna narkoba, kasus terorisme, sampai kurangnya nilai jual dan daya saing hingga angka pengangguran yang cukup besar.

            Memang fakta yang ada dilapangan saat ini adalah seperti itu. Kritikan pedas memang  diperlukan untuk membuka fikiran dan memompa semangat mahasiswa saat ini untuk bangkit sehingga tidak melulu memikirkan dirinya sendiri, bahkan perutnya sendiri. Semestinya mahasiswa harus berani merombak watak budaya politik yang menjadikan kekuasaan dan uang sebagai tujuan utama. mahasiswa juga harus memperkuat komitmen penegakan hukum dan memfungsikan partai politik dan badan legislatif sebagai arena perjuangan kepentingan rakyat bukan kepentingan partai politik bahkan oknum tertentu, mahasiswa juga harus bisa menjadi agen debirokratisasi dari birokrasi yang belum akuntabel, profesional, dan tidak berorientasi pada pelayanan. Upaya itu juga harus dilandasi dan diimbangi dengan ilmu pengetahuan, sikap atau kepribadian yang baik, bukan dengan tindakan anarkis seperti yang telah terjadi belakangan ini.

            Saya mencoba mengambil kasus secara sempit adalah mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah. Mereka seakan telah dibutakan dari makna pergerakan secara sebenarnya, mereka selalu disibukan dengan kegiatan-kegiatan akademis tanpa diimbangi dengan fungsi mahasiswa secara luas. Mereka amat pasif menanggapi situasi lokal dan situasi nasional. Bahkan situasi kampuspun mereka respon dengan dingin. Kaum Intelegensia di lingkungan kampus telah dikebiri dengan di arahkan,  di pos-pos kan , dan digiring paradigmanya bahwa kuliah itu semata-mata hanya belajar, mendapat nilai bagus, dan lulus dengan predikat “cumloude”. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas ( BEMF ) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi ( HMPS ) menurut saya juga belum menjalankan peran dan fungsinya dengan maksimal. Kegiatan-kegiatan mereka lebih cenderung terhadap kegiatan yang berbau akademis. Mereka tidak bisa menampung aspirasi dan mengakomodir mahasiswa lainnya, bahkan lebih cenderung responsive kepada golongan-golongan dan organisasi – organisasi tertentu saja. Lebih ironis lagi jika kita memandang ke ranah Universitas, dimana  Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) yang menjadi wadah aspirasi dan demokrasi mahasiswa se-Universitas sampai artikel ini diterbitkan belum juga ada atau lebih tepatnya belum dilaksanakan pemilihan. Padahal kepengurusan BEMF dan HMPS sudah berjalan hampir setengah dari periode kepemimpinan. 

Hal tersebut mengindikasikan bahwa wadah-wadah pergerakan yang bisa mengakomodir aspirasi mahasiswa telah “kerdil dan dikerdilkan” oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan pergerakan-pergerakan mahasiswa itu muncul kembali. Terlepas dari itu semua, seharusnya mahasiswa sadar, paham betul, dan mempunyai inisiasi untuk bergerak tanpa mengenal siapa dia, dari manakah alamaternya, ataupun apakah background organisasinya. Sesuatu yang mungkin saja bisa terjadi apabila mahasiswa mau melakukannya dari hati, bukan atas emosional organisasi dan golongan tertentu, apalagi bergerak berdasarkan uang, karena dipundak mahasiswa tonggak peradaban bangsa Indonesia ditentukan.

Tangerang, 14 November 2012

Oleh :   Ismail Adi Nugraha 

-Redaksi

Iklan