QuestionMark

​baca atau JANGAN BER-ORGANISASI YA DIK !

Hidup mahasiswa ..
Salam Pergerakan ..

Setiap orang mungkin berorganisasi dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada orang yang berorganisasi dengan tujuan ‘Jadi Tenar’, ada yang berorganisasi dengan tujuan ‘Jadi Kaya’, ada yang dengan tujuan ‘Cari teman, Cari pasangan, Cari peluang, ada yang dengan tujuan ‘Belajar mandiri dan percaya diri’, ada yang sekedar ikut-ikutan teman atau pasangannya tanpa tujuan yang pasti, yang lainnya dengan tujuan ‘Berbuat Baik’.
Terlepas dari berbagai tujuan yang berbeda di atas, kita semua yang telah bergabung dalam satu organisasi tertentu (dalam hal ini organisasi PMII), ketika visi & misi, tujuan serta ideologi daripada organisasi dihantarkan, maka boleh dikatakan kita memiliki satu harapan mulia yang sama pada umumnya terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Saya teringat dengan pembicara pada salah satu kegiatan kaderisasi wajib yang diadakan oleh organisasi yang sedang saya emban tanggung-jawabnya, bahwasanya pada sesaat sebelum pembicara tersebut mengakhiri materinya dia berkata “dewasa ini ramai orang berbuat baik untuk ketenaran dan nama baik (lebih menitik-beratkan pada apa yang bisa didapati daripada apa yang bisa diberikan)”.Kata-kata Pembicara ini patut direnungkan. Menurutku, melakukan pengenalan organisasi lewat media massa atau media elektronik lainnya yang bertujuan memberikan informasi kepada mahasiswa tentang keberadaan kegiatan organisasi yang dapat memberikan manfaat bagi mereka adalah sah-sah saja. Orang-orang dapat memberikan penilaian yang baik sepanjang kita bekerja dengan usaha disertakan niat yang tulus. Tetapi kacaunya, ada orang yang jika tidak ada namanya atau tidak ada nama organisasinya, maka ia segan membantu walaupun mungkin ia mampu dan punya waktu luang. Ia terikat dengan ekstrim dengan label seperti “Aku orang P, Dia orang M, Yang itu orang I, Yang lainnya I”. Membantu yang lain sampai melangkahi kewajiban dan tanggung jawab pihak lain yang bersifat internal tentunya tidak layak dan tidak disenangi. Tetapi, membantu secara eksternal misalnya dalam hal memberikan bentuk kepedulian sesama, ikut mengkonsepkan, berbagi info pada yang lain, mengajak yang lain berdana untuk kegiatan yang dilakukan, dan masih banyak contoh yang lainnya tentunya hal yang seperti itu tidak akan dicemooh apalagi terkena sangsi social justru mendekatkan emosional terhadap yang lain.

Di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Fakultas Syariah dan hukum masa bakti 2015 yang diketuai oleh Brilian Eltamin Alderi di akhir kepengurusannya saya kira merupakan contoh kongkrit terhadap cerminan bagaimana sesungguhnya organisasi berlaku dinamis dan harmonis.. Peluncuran Buku Perdana Komfaksyahum merupakan karya atas kekompakan organisasi yang merupakan representasi sinergisitas antara seluruh anggota dan kader.Publikasi Buku ini adalah karya yang luar biasa yang juga berkat dukungan serta teamwork teman-teman dari pengurus organisasi. Mengagumkan! Jika suatu acara tidak sesuai dikerjakan secara bersama-sama, hendaknya yang lain memberikan dukungan moral atau bantuan yang bersifat eksternal diatas. Sikap tidak bersimpati,saling beradu masalah pribadi, saling membandingkan atau saling menjatuhkan bukanlah sikap yang terpuji dan harus jauh-jauh dihapuskan dari organisasi.

Kemudian, kita juga pernah atau sering mendengar bahwa di “organisasi ini”, di“organisasi itu” terdapat perbuatan politis yang menghalalkan segala caraa terdapatnya penyelewengan penggunaan dana oleh siapa dan siapa. Alamak! Oknum-oknum nakal seperti itulah yang harus kita jadikan common enemy.Tetapi harus juga diakui, ada sebagian kecil orang yang berorganisasi dengan sepenuh hati, tulus, tanpa pamrih, tak banyak mengharap untuk dirinya sendiri.Abdurrahman Wahid yang akrab kita panggil “Gus Dur”, mantan Presiden Indonesia ke-5 adalah sesosok pemimpin yang ketulusannya telah mengilhami banyak orang, bahkan pinpinan-pimpinan di belahan dunia lain pun memujinya.

Sekarang mari kita teliti masalah-masalah yang kerap kali muncul dalam berorganisasi !.

Di hari biasa, kita mungkin telah menghabiskan banyak waktu untuk keluarga, untuk kewajiban utama, untuk hal-hal lain yang meletihkan dan menegangkan diri kita.Aktifitas organisasi diakhir pekan yang diharapkan dapat memberi nuansa baru dan kedamaian malah menjadi tambahan beban/dilema bagi kebanyakan dari kita.

Misalnya, ketika beberapa dari teamwork kita tidak merasa berkepentingan sehingga sering tidak hadir/tidak ikut dalam rapat atau tidak muncul saat pelaksanaan suatu kegiatan, kita merasa tidak puas, jengkel, maupun tertekan.Ada perasaan bahwa kita ini kurang dihargai tetapi kita juga tidak bisa terlalu memaksa.Itulah masalahnya.Hendaknya dipahami, sebagaimana masing-masing dari kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab sendiri-sendiri yang harus dipenuhi maka sedapatnya kita memenuhi kewajiban dan tanggung jawab kita.Jangan sampai berpikiran”toh aku tidak digaji kok, memangnya dipecat? Ah, peduli amat, lagi senang yah kerjain, lagi bad mood, biarin sana”. Pikiran seperti ini tidak tepat.Terkecuali bila ada urusan yang mengharuskannya non-aktif dari organisasi seperti meninggal dunia, sakit parah, sekolah/kerja/pindah luar kota/negri.

Selanjutnya, kita juga sering berkata bahwa perbedaan pendapat adalah wajar, tetapi tidak jarang kita belum mampu memahami, bila pendapat kita tidak didengar maka timbul sakit hati, tersinggung dan tidak muncul-muncul lagi di sekretariat atau dalam kegiatan organisasinya.

Sebut saja Q, sahabat pertama sekaligus inspiratorku, aku sering berbeda pendapat dan berselisih dengannya, sampai-sampai jengkel satu sama lain. Hahaha.Tapi bila kita menyimpan kritikan/kejengkelan itu berlarut-larut dalam hati, siapa yang rugi?Aku berterima-kasih pada dirinya yang telah banyak membantuku. Sungguh!

Jobdesk yang terlalu dibedakan juga merupakan hal yang membawa dilema, ketika kita berpikiran ia bekerja terlalu sedikit, semua semuanya harus saya yang kerja, atau yang itu bahkan tidak bekerja, pintarnya cuma ngomong saja. Ah menyebalkan. Hehehe (

Beberapa waktu yang baru lewat, saya pernah mengaduh dan mengeluh pada si Q bahwa mungkin saya telah merepotkan atau mungkin bahkan mengecewakan banyak orang dengan kekalahan dalam memimpin organisasi. Rasanya kecewa dengan diri sendiri yang tidak bisa menjadi seperti apa yang diharapkan. Q membalas “Bukankah kita adalah komfaksyahum yang artinya kita satu keluarga?Bukankah bagian dari keluarga semestinya saling membantu?Kita akan saling mendukung untuk menggerakan hal yang berikutnya lagi.”Benar-benar balasan yang mengharukan hati.

Dalam organisasi, kita belajar menghargai orang lain, menerima nasehat dan mendengarkan pendapat tetapi juga tegas dengan apa yang baik yang sesuai untuk dilakukan dengan apa yang tidak baik yang sepantasnya dihindari. Kita juga belajar mengasihi dan peduli sesama teman-teman seorganisasi. Apabila kita sanggup mengasihi teman-teman sendiri yang dekat dan yang kita kenal maka kasih ini dapat dikembangkan dengan lebih baik kepada mereka yang tidak kita kenal diluar sana. Sehingga kewajiban kaderisasiakan dengan sendirinya terpenuhi.

Kita juga menjadi teladan untuk mereka yang baru bergabung atau yang masih baru.Ketika mereka melihat manfaat-manfaat yang diperoleh, mereka terinspirasi dan ingin berkarya.Sahabatkuyang barusan pulang dari Pelatihan Kader Dasar di Depok kediaman salah satu senior hebatku, menyatakan kekaguman dan takjubnya, saking terinspirasinya, dia malah terharu dan menangis. Hahaha…..

Sebagai bagian dari organisasi, saya mendorong sahabat-sahabati dalam organisasi untuk berkembang dan maju. Tetapi ada saatnya kita patut mengasihi diri sendiri dengan merenungi hal-hal seperti berikut: “Bila dulunya saya adalah orang yang penyabar, sekarang cepat emosi/mudah tersinggung/banyak yang tidak kusenangi”, “Bila dulunya saya lebih berbahagia, sekarang banyak tekanan bathin”, “Bila dulunya bisa tidur nyenyak, sekarang banyak pikiran, kacau, gelisah dan khawatir”, “Bila dulunya jarang gosipin orang, sekarang siapapun digosipin, yang buruknya pula”, “Bila dulunya kuliahku terkendali, sekarang mengatur waktu untuk sekedar membuat makalah pun tak ada”, “Bila dulunya rajin ibadah, sekarang lima waktu saja ditinggalkan” 

Bila hal-hal diatas ada pada diri kita, maka kita patut bertanya pada diri kita, Apakah saya cocok menjadi bagian dari organisasi? Berorganisasi itu baik atau tidak, bermanfaat atau tidak adalah tergantung pada masing-masing orang yang menjalani. Organisasi itu adalah suatu sarana yang menjadi pilihan untuk mengembangkan diri.Ada orang yang cocok dan cepat maju dengan berorganisasi.Sebaliknya ada orang yang cocok dan cepat maju dengan pilihan lainnya yang juga terpuji.

Selamat berorganisasi !!!

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwaami Thariq

Wassalamua’alaikum Warahmatullahi Wabaraakaatuh

Kader Syariah

Luthfan Dimas Pratama S.Sy., S.H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s