Makna Taqwa

 

Oleh : Murtadho Muttahari

kata “taqwa”termasuk salah satu di antara kata-kata agama yang banyak dikenal dan diucapkan. Di dalam Al Quran al Karim, kata “taqwa”banyak digunakan dalam bentuk isim (kata benda) atau fiil (kata kerja). Penyebutan kata taqwa dalam Al Quran al Karim kira-kira sama banyaknya dengan penyebutan kata “iman” dan “amal”, atau dengan kata “shalat”dan “zakat”, dan lebih banyak dibandingkan kata “puasa”–misalnya. Di antara kata yang banyak disebut dalam kitab Nahjul Balaghah  ialah kata “taqwa”Di dalam kitab Nahjul Balaghah terdapat satu khotbah panjang yang bernama “Khotbah Muttaqin” khotbah ini disampaikan oleh Amirul Mukminin sebagai jawaban atas permintaan seseorang yang menginginkan dijelaskannya sifat-sifat yang menampilkan sosok  orang  yang bertaqwa. Pada mulanya Amirul Mukminin menghindar untuk memberi jawaban,  dan hanya cukup dengan memberi tiga atau empat kalimat jawaban. Namun orang tersebut yang bernama Hammam bin Syarih, seseorang yang memiliki kesiapan dan telah tercerahkan, tidak merasa cukup dengan jawaban itu, dan terus bersikeras dengan  permintaannya.

 

Maka Amirul Mukminin pun mulai berbicara, dan mengakhiri pembicaraannya setelah menjelaskan lebih dari seratus sifat yang menjelaskan karakteristik  spiritual, karakteristik   pemikiran, karakteristik akhlak, dan perbuatan  orang-orang yang bertaqwa. Para Sejarawan menulis bahwa berhentinya pembicaraan  Amirul Mukminin ialah bersamaan dengan jatuh pingsannya Hammam bin Syarih.

 

Maksud dari penjelasan di atas ialah, bahwa kata “taqwa” termasuk salah satu di antara kata-kata agama yang banyak dikenal dan sering digunakan. Di kalangan masyarakat umum pun kata ini banyak digunakan. Kata ini berasal dari akar kata waqyan, yang berarti menjaga dan memelihara. Arti dari kata ittiqa ialah penjagaan. Dalam beberapa penerjemahan (dalam bentuk isim) seperti kata taqwa atau kata muttaqin, kata ini diterjemahkan dengan arti “menjauhi/takut”. Tapi arti atau makna lebih tepatnya dari kata “taqwa” adalah menjaga dan memelihara diri, dan kata muttaqin berarti orang-orang yang menjaga dan memelihara diri.

 

Kata taqwa, dalam pandangan syariat berarti menjaga diri dari hal-hal yang akan menyeret manusia kepada perbuatan dosa, dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Hal yang bisa dijelaskan dari penggunaan ungkapan takut kepada Allah adalah bahwa manusia takut akan keadilan Allah. Hal ini pada hakikatnya berkaitan dengan ketakutan akan kesalahan diri, kekhawatiran terhadap pembangkangan hawa nafsu sehingga berada di luar kendali akal dan iman.

 

Makna dan Hakikat Taqwa

Dari penjelasan yang telah disampaikan mengenai kata “taqwa” dari sisi bahasa, sampai pada batas tertentu kita dapat mengetahui makna dan hakikat takwa dari sudut pandang Islam. Namun kita perlu lebih memperhatikan tempat-tempat penggunaan kata ini di dalam nas-nas agama, sehingga menjadi lebih jelas bagi kita apa itu taqwa.

 

Jika manusia ingin mempunyai dasar-dasar pijakan dalam hidupnya, dan mengikuti dasar pijakan itu, baik yang diambil dari sumber agama atau sumber yang lain, maka mau tidak mau ia harus mempunyai jalan tertentu, di mana petaka dan bencana tidak menguasai apa yang dilakukannya. Untuk memiliki jalan tertentu, seseorang harus bergerak ke satu arah dan ke satu tujuan, dan menjaga dirinya dari hal-hal yang sejalan dengan hawa nafsu dan kecenderungan dirinya yang bertolak belakang dengan tujuan dan dasar-dasar pijakan yang diambilnya.

 

Oleh karena itu, “taqwa” dalam artian umum adalah keharusan bagi kehidupan setiap individu yang  ingin menjadi manusia, ingin hidup di bawah komando akal sehat, dan ingin mengikuti dasar-dasar pijakan tertentu.

 

Taqwa ilahi ialah di mana seseorang manusia menjaga dan memelihara dirinya dari hal-hal yang menurut  pandangan agama dan dasar-dasar pijakan yang telah ditetapkan oleh agama merupakan suatu dosa dan keburukan, dan tidak melakukannya. Usaha menjaga diri dari perbuatan dosa, yang dinamakan dengan taqwa, dapat dibagi menjadi dua macam, yakni taqwa yang lemah dan taqwa yang kuat.

 

Bentuk  pertama, ialah di mana seseorang  yang untuk menjaga dirinya dari noda-noda maksiat ia menjauhkan dirinya dari lingkungan yang dapat menjerumuskannya ke dalam perbuatan dosa. Tak ubahnya seperti orang yang menjauhkan dirinya dari lingkungan yang penuh penyakit dan kuman agar tidak terjangkit atau tertular .

 

Jenis takwa yang kedua, ialah di mana di dalam diri manusia terdapat kekuatan yang menjaga dan membentengi akhlak dan rohaninya, sehingga sekiranya dia  tinggal atau  berada di suatu lingkungan yang penuh dengan berbagai fasilitas dan kemudahan untuk berbuat maksiat, maka kekuatan rohani yang ada dalam dirinya itu akan menjaga dan mencegahnya untuk tidak tercemari polusi maksiat. Tak  ubahnya seseorang yang dengan perantaraan suatu alat tertentu menciptakan kekebalan medis di dalam tubuhnya, sehingga kuman penyakit tertentu tidak dapat lagi memberi pengaruh kepada tubuhnya.

 

Pada zaman sekarang, pengertian yang dimiliki masyarakat umum tentang taqwa adalah taqwa dalam bentuk pertama. Sehingga jika dikatakan bahwa si fulan orang bertaqwa, maka artinya dia orang yang berhati-hati, orang yang memilih mengucilkan diri dan orang yang menjauhkan dirinya  dari hal-hal yang akan menjerumuskannya  kepada dosa. Ini bentuk taqwa yang lemah, sebagaimana yang telah kita utarakan.

 

Pemaksaan  Perbuatan

Di dalam kitab-kitab akhlak, terkadang diceritakan kisah orang-orang dahulu. Agar tidak banyak bicara dan mengatakan pembicaraan yang sia-sia dan haram, mereka meletakkan batu kerikil di mulut merekasehingga mereka tidak dapat bicara. Jadi, mereka menciptakan pemaksaan perbuatan pada dirinya. Biasanya mereka menganggap bentuk perbuatan seperti ini merupakan contoh dari kesempurnaan taqwa; padahal melakukan pemaksaan perbuatan untuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa tidak dihitung sebagai sebuah keempurnaan. Jika kita melakukan cara seperti ini (pemaksaan perbuatan) dan melalui cara ini kita tidak melakukan perbuatan dosa, benar kita telah mejauhi perbuatan dosa, namun diri kita tetap saja sebagaimana sebelumnya, yang dikarenakan tidak ada alat dapat melakukan perbuatan dosa.

 

Suatu kesempurnaan baru dihitung manakala terwujud tanpa pemaksaan perbuatan dan dengan memiliki berbagai alat dan fasilitas, seorang manusia menjauhkan dirinya dari perbuatan dosa dan maksiat. Bentuk penjauhan seperti ini, walau –

 

pun dihitung sebagai suatu kesempurnaan, itu hanya dari sisi pendahuluan, ,yaitu diperlukan pada tahap-tahap pertama untuk menemukan “kekuatan  taqwa”. Karena “kekuatan taqwa” baru dapat terbentuk setelah melakukan serangkaian latihan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Akan tetapi, hakikat aqwa bukanlah  perbuatan-perbuatan ini. Hakikat taqwa adalah kekuatan dan kesucian rohani yang menjaga manusia dari perbuatan dosa. Seorang manusia harus berjuang untuk mendapatkan makna dan hakikat taqwa ini.

 

Taqwa dan Kebebasan

Kita telah mengatakan bahwa keharusan dari seorang manusia keluar dari kehidupam hewani dan memilih kehidupan khiupan insani ialah dia harus mengikuti dasar-dasar ajaran tertentu, ,dan keharusan dari mengikuti dasar-dasar ajaran tertentu ialah dia harus membatasi dirinya pada kerangka dasar-dasar ajaran tersebut dan tidak keluar dari batasnya, dan manakala hawa nafsu menggoda dan menggerakkan dirinya supaya kelua dari batas-batas tersbut maka dia menjaga dan meemelihara dirinya untuk tidak keluar. “Menjaga diri” yang diikuti dengan meninggalkan beberapa perkara dinamakan dengan “taqwa”.

 

Kita tidak boleh membayangkan bahwa taqwa adalah suatu kewajiban agama seperti puasa dan salat, melainkan taqwa adalah sebuah keharusan dari kemanusiaan. Manusia jika ingin keluar dari bentuk kehidupan binatang maka mau tidak mau harus memiliki  taqwa.

 

Dengan memperhatikan masalah ini, terutama apa yang dikatakan oleh para pemimpin besar agama mengenai taqwa, di mana mereka menggambarkannya sebagai sebuah benteng, tempat perlindungan dan semacamnya, mungkin saja orang orang yang terbiasa dengan kebebasan, lari dari segala sesuatu yang berbau keterbatasan. Mereka membayangkan bahwa taqwa adalah salah satu musuh kebebasan dan sebuah rantai besi yang diikatkan kepada kaki manusia .

 

Keterbatasan atau Keterjagaan

Sekarang, kita harus menjelaskan bahwa taqwa bukanlah “keterbatasan” melainkan “keterjagaan” Terdapat perbedaan antara keterbatasan dan keterjagaaan. Manusia membangun rumah, adalah untuk menjaganya dari  panas, dingin dan hujan. Apakah rumah menjaga atau membatasi manusia?begitu pula dengan pakaian, apakah ia membatasi atau menjaga kita?. Taqwa bagi jiwa adalah seperti rumah bagi kehidupan, dan seperti pakaian bagi tubuh. Di dalam Al Quran al Karim pun taqwa diibaratkan sebagai pakaian. Di dalamsurah al A’raf ayat 26, setelah Allah SWT menyebutkan sejumlah pakaian tubuh, Allah SWT berfirman, “dan  pakaian taqwa itulah yang  paling  baik.”

 

Nilai dan Pengaruh Taqwa

Amirul Mukminin as, menyebutkan banyak pengaruh taqwa, misalnya, “taqwa adalah terbebas dari segala perbudakan dan keterselamatan dari segala kebinasaan,” atau  dia mengatakan “taqwa adalah obat dari penyakit hatimu, kesembuhan bagi penyakit jasadmu, kebaikan bagi kerusakan dadamu, dan kesucian bagi kekotoran jiwamu.”

 

Taqwa adalah salah satu pilar bagi kehidupan manusia, baik individu maupun sosial. Tidak adanya taqwa menjadikan fondasi kehidupan manusia menjadi goyah. Karena itu taqwa adalah salah satu dari hakikat  dari kehidupan.

 

Pada masa sekarang kita memiliki banyak  permasalahan sosial, yang sedikit banyak menyita pemikiran kita. Perceraian yang meningkat, pembunuhan, kejahatan dan pencurian bertambah banyak. Mengapa semua ini terjadi?

 

  • Tidak diragukan lagi bahwa lemahnya kekuatan iman dan rusaknya barikade taqwa merupakan faktor penting dari kerusakan-kerusakan ini. Jalan keluarnya adalah adanya kepandaian, keimanan dan ketaqwaan  dalam setiap diri individu dalam masyarakat.

 

Dua Pengaruh Besar  Taqwa

Pada pembahasan taqwa yang kedua ini akan dikemukakan dua pengaruh penting taqwa yang disebutkan dalam Al Quran al Karim. Dua pengaruh taqwa itu ialah : Pertama, ketajaman penglihatan batin, sebagaimana disebut dalam surat al Anfal ayat 29, “Jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya  Dia akan memberikan furqon (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil) kepadamu.”

 

Yang kedua, ialah terselesaikannya berbagai kesulitan, menjadi mudahnya berbagai pekerjaan dan dapat keluar dari berbagai masalah dan bencana. Hal  ini sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah ath-Thalaq ayat 2, yang berbunyi, “Barang siapa  yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menciptakan jalan keluar baginya.”

 

Dalam surah yang sama, dua ayat sesudahnya Allah SWT berfirman, “Dan barang siapa yang bertaqwa kepada  Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya..”

 

Taqwa dan Ketajaman Penglihatan Batin

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah telah bersabda, “Perangilah hawa nafsumu sehingga hikmah masuk ke dalam hatimu”.

 

Juga terdapat hadits Nabi saw  yang lain, penukilannya terkenal dalam seluruh kitab hadits. Hadits ini berbunyi, “barangsiapa yang berlaku ikhlas kepada Allah selama empat puluh hari, maka air mata hikmah akan mengalir dari hatinya ke lisannya.”

 

Penjelasan-penjelasan seperti ini sangat banyak sekali dalam hadits-hadits, yang mengatakan secara langsung ataupun tidak langsung bahwa taqwa dan kesucian diri dari dosa berpengaruh kepada ketajaman dan kepandaian batin. Demikian juga sebaliknya ; hadits-hadits yang mengatakan bahwa penyembahan hawa nafsu dan lepasnya kendali taqwa merupakan sebab kelamnya  hati dan padamnya cahaya akal.

 

Taqwa dan Hikmah ‘Amali

Para hukama mempunyai istilah, bahwa akal terbagi kepada dua bagian, yaitu akal ‘amali  (hikmah praktis) dan akal Nazhari (hikmah teoritis). Akal ‘amali ini adalah sesuatu yang menjadi dasar bagi ilmu-ilmu kehidupan, menjadi dasar prinsip akhlak. Di dalam akal ‘amali yang menjadi bahan pembicaraan adalah pekerjaan apa  yang harus dilakukan,  pengertian tentang kebaikan dan keburukan, yang harus dan yang tidak boleh, yang halal dan yang haram.

 

Adapun yang disebut dalam hadits bahwa taqwa menerangi akal dan membukakan jendela hikmah kehadapan manusia, adalah berkaitan dengan akal ‘amali. Artinya dengan pengaruh taqwa seseorang dapat lebih mengenal penyakit dirinya, obat dirinya dan jalan yang harus ditempuh dalam kehidupannya.

 

Taqwa dan Pelembutan Emosi & Perasaan

Taqwa dan kesucian jiwa dapat  melembutkan emosi dan perasaan. Artinya, taqwa dan kesucian jiwa menjadikan emosi dan perasaan menjadi lembut dan halus. Seorang manusia yang bertaqwa, yang menjauhi perbuatan-perbuatan yang buruk dan kotor, menjauhi perbuatan riya dan menjilat, yang menjaga kemuliaan dan kemerdekaan dirinya, yang pusat perhatiannya adalah masalah-masalah spiritual, tidak sama perasaan dan emosinya dengan orang yang tenggelam dalam perbuatan keji dan hina, yang terlalu karam dalam masalah bendawi. Tentu tidak diragukan lagi, emosi dan perasaan orang yang bertaqwa lebih tinggi dan lebih lembut. Dia bisa lebih merasakan keindahan akal di alam wujud ini.

 

Kalaulah sastra atau syair-syair merupakan ekspresi dari kelembutan perasaan dan kesensitifan hati, kita dapat temukan betapa syair-syair  para  sufi penyair jaman dahulu – seperti Sa’di dan Hafiz – begitu menyentuh hati. Dan itu jarang kita temukan sekarang ini. Padahal dunia telah semakin maju, pemikiran telah telah begitu berkembang.

 

Ini tentu suatu teka-teki, tapi yang pasti adalah bahwa seorang pribadi manusia yang kotor dan penuh dosa, betapapun tinggi  kecerdasan dan kepandaian yang dimilikinya, dia lemah untuk bisa memahami kelembutan-kelembutan spiritual, dan tidak mampu menciptakan makna-makna lembut yang dapat ditemukan pada beberapa ucapan dan perkataan.

 

Taqwa dan Kekuatan Kemenangan Menghadapi Segala Kesulitan

Adapun pengaruh taqwa yang lain adalah sebagaimana terdapat dalam Al-Quran al-Karim :

Barangsiapa yang  bertaqwa  kepada Allah niscaya Allah akan menciptakan jalan keluar baginya.” (QS. ath Thalaq :2) .

Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan                dalam urusannya.  (QS. Ath-Thalaq :4)

 

Di sini timbul pertanyaan, apa hubungan antara taqwa yang merupakan satu keistimewaan jiwa dengan kemenangan menghadapi berbagai masalah dan kesulitan.

 

Dua Macam Bentuk Kesulitan

Pertama-tama harus dijelaskan dulu, bahwa kesulitan yang datang menghampiri  manusia ada dua macam:

Pertama, kesulitan yang keinginan manusia sama sekali tidak  ikut campur  di dalamnya. Seperti seorang  menaiki kapal terbang lalu kapal terbangnya mengalami kerusakan; atau dia menaiki kapal laut lalu terjadi topan dan badai yang dahsyat sehingga hampir menenggelamkan kapalnya. Hal  tidak diperkirakan sebelumnya dan tanpa keinginan atau ikhtiar  manusia dapat ikut campur didalamnya. Kedua,  berbagai  musibah dan kesulitan yang disebabkn oleh adanya  keinginan dan ikhtiar manusia. Dengan kata lain kesulitan ini bersifat akhlak dan sosial.

 

Jadi, di sini ada dua masalah. Pertama pengaruh taqwa dalam keselamatan manusia dari kesulitan-kesulitan bentuk pertama; dan kedua, pengaruh taqwa dalam keselamatan manusia dari kesulitan-kesulitan bentuk kedua.

 

Lalu bagaimana dengan dua ayat di atas tadi. Dalam Kitab Nahjul Balaghah  yang bisa dianggap sebagai tafsiran dari ayat tersebut terdapat jawaban mengenai hal ini : “Ketahuilah, barangsiapa bertaqwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari berbagai fitnah, dan cahaya dari berbagai kegelapan.”  Yang dimaksud dengan fitnah ialah kesulitan-kesulitan akhlak dan sosial.

 

Kesulitan atau musibah dalam bentuk pertama jarang terjadi. Pokok berbagai kesulitan dan musibah yang datang menghampiri manusia, yang membuat kehidupannya menjadi sulit dan yang merampas kebahagiaan dunia dan akhiratnya adalah musibah-musibah yang bersifat akhlak dan sosial.

 

Dengan memperhatikan bahwa kebanyakan sumber berbagai kesulitan yang dihadapi setiap manusia adalah dirinya sendiri, dan musuh yang paling  keras bagi setiap manusia adalah dirinya sendiri, maka setiap orang menjadi penentu bagi nasibnya.

 

Kebanyakan musibah yang datang  kepada  kita bukan datang dari luar, melainkan dari diri kita sendiri yang membuatnya untuk diri kita. Dengan memperhatikan masalah ini, akan menjadi jelas bahwa betapa senjata taqwa sangat berpengaruh dalam menjauhkan manusia dari berbagai fitnah dan musibah, maka niscaya taqwa akan menyelamatkannya. Allah SWT berfirman dalam surah al-A’raf ayat 201 :

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat Allah, maka ketika itu juga mereka ingat akan kesalahan-kesalahnya.

 

Dengan dalil inilah taqwa mempunyai pengaruhnya yang pertama, yaitu berupa ketajaman penglihatan, dan juga pengaruhnya yang kedua, yaitu berupa keselamatan dari berbagai kecelakaan dan musibah. Kesulitan-kesulitan ditemukan di dalam kegelapan, dan kegelapan adalah debu dosa dan hawa nafsu. Ketika cahaya taqwa ditemukan maka jalan dan jurang dapat dibedakan, dan manusia akan lebih sedikit ditimpa kesulitan; dan kalau pun manusia ditimpa kesulitan maka dengan cahaya taqwa dia dapat lebih mudah menemukan jalan keluar.

 

Di samping semua yang disebutkan di atas, taqwa menjadikan manusia tidak menghambur-hamburkan kekuatan cadangan yang ada dalam dirinya kepada hal yang sia-sia. Jelas, seorang yang kuat memiliki tekad dan berkepribadian, dapat dengan lebih baik mengambil keputusan dan menyelamatkan dirinya, sebagaimana Allah telah menetapkan bahwa memiliki cahaya merupakan satu jalan bagi keselamatan dan kebebasan; dan begitu juga memiliki kekuatan. (MH)

 

 

 

Dikutip dari buku ceramah Sayyid Murtadha Muthahhari mengenai persoalan-persoalan penting agama dan kehidupan dengan sedikit penyesuaian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: