Semua tulisan dari PMII KOMFAKSYAHUM

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum Cabang Ciputat "Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh" Twitter : @komfaksyahum facebook : pmii komfaksyahum Ig : @pmii_komfaksyahum

Warga PMII Torehkan Gelar Wisudawan Terbaik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

Alhamdulillah dengan puja dan puji syukur kehadirat Ilahi Rabbi, kami keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum (PMII KOMFAKSAYAHUM) UIN Jakarta Cabang Ciputat mengucapkan Selamat dan Sukses kepada sahabat/i yang telah wisuda, semoga menjadi modal awal untuk memberikan manfaat yang lebih untuk pribadi dan umumnya kepada seluruh insan.

“Ini menjadi salah satu bukti bahwa organisasi PMII KOMFAKSYAHUM mampu mencetak kadernya lebih unggul dan memberikan manfaat baginya.” tutur Arif Fadilah, Ketua Umum PMII KOMFAKSYAHUM. Arif mengungkapkan rasa syukur dan bangganya terlebih kepada wisudawan terbaik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta Sahabati Arya Chairu Nisa (Jurusan Hukum Pidana Islam) dengan IPK 3.70 Cumlaode, setelah tahun sebelumnya wisudawan terbaik Fakultas Syariah dan Hukum di torehkan oleh Sahabati Bella Awaliyah Agustina (Jurusan Ilmu Hukum) dengan IPK 3.80 Cumlaude dan Sahabat Lutfan Dimas Pratama (Jurusan Hukum Keluarga) dengan ipk 3.79 Cumlaude. “Hal ini mematahkan stigma banyak orang yang mengatakan bahwa orang yang mengikuti organisasi PMII akan membuat dirinya tidak berkembang dan akan terbengkalai kuliahnya”, pungkasnya.

Semangat dan selamat Sahabat-Sahabati.

Penulis: Pionner PMII KOMFAKSYAHUM

Iklan

Memaknai Kembali Nasionalisme dan Patriotisme

Sebelum mendiskusikan terkait nasionalisme dan patriotisme, perlu dipahami terlebih dahulu tentang apa yang melatarbelakangi perlunya sifat dari dua paham diatas.

Bangsa adalah suatu hal yang memunculkan sifat nasionalis dan patriotis, jadi perlu kiranya untuk mengetahui apa arti dari sebuah bangsa.

Bangsa adalah wilayah komunitas dari tanah kelahiran. Seseorang dilahirkan kedalam suatu bangsa. Signifikansi yang dicirikan pada fakta biologis kelahiran berkembang ke dalam sejarah, struktur territorial dari komunitas kebudayaan atas bangsa adalah mengapa bangsa merupakan salah satu di antara sejumlah bentuk kekerabatan. Ia berbeda dari bentuk kekerabatan lain seperti keluarga karena sentralitas territorial. Ia juga berbeda dari komunitas kewilayahan lain seperti suku, negara kota, atau berbagai ‘kelompok etnis’ lain, tidak sekedar karena keluasan wilayah yang lebih besar, namun juga karena budaya yang relative seragam, menyediakan stabilitas yang berkelanjutan seiring dengan waktu.[1]

Definisi bangsa diatas tidak bisa dipahami dengan sekilas saja, perlu pemahaman yang lebih mendalam tentang pengertian dari bangsa yang ditawarkan oleh Steven Grosby.

Ada tiga komponen kenapa suatu kumpulan masyarakat dinamakan bangsa. Pertama, Waktu, dalam pembentukan sebuah bangsa dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena kesadaran kolektif yang dibangun membutuhkan waktu yang panjang dan banyak melewati kejadian-kejadian yang nantinya akan menumbuhkan kesadaran bersama. Seperti adanya perang melawan Belanda, Sumpah pemuda dan lainnya merupakan sebuah rangkaian kejadian yang secara perlahan-lahan menumbuhkan semangat senasib seperjuangan. Komponen waktu ini –ketika suatu pemahaman masa lalu membentuk bagian dari masa kini- merupakan karakteristik bangsa dan disebut sebagai ‘kedalaman tentang waktu’. Kedua, Ingatan, banyaknya rangkaian kejadian yang dilalui bersama, semakin membentuk rasa kebersamaan antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga ingatan-ingatan akan kejadian masa lalu membentuk sebuah relasi. Selain itu, kesamaan bahasa karena terbentuk oleh adanya ingatan terhadap apa yang didapatnya memberikan pemahaman kepada dirinya mengenai perbedaan dengan kelompok lain yang berbicara dengan bahasa berbeda. Maka, bangsa adalah hubungan sosial dari kesadaran diri kolektif. Dan Ketiga, wilayah, tindakan mencari dan menempatkan suatu klaim ke masa lalu beserta lokasinya menciptakan keberlanjutan antara masa lalu itu dan lokasinya dengan masa kini beserta lokasinya. Keberlanjutan ini dipandang sebagai pembenaran tatanan masa kini karena ia dipahami sebagai dengan semestinya telah mengandung masa lalu. Seseorang dengan cara demikian mengakui dirinya merupakan bagian dari wilayah tersebut yang memiliki masa lalunya, pada situasi seperti ini , keberadaan suatu masyarakat yang dibentuk oleh kewilayahan dan diyakini akan bertahan seiring dengan waktu; dan inilah apa yang dimaksudkan dengan istilah bangsa.

Ringkasnya, bangsa adalah relasi teritorial dari kesadaran diri kolektif terhadap durasi aktual maupun imajinasi.

Nasionalisme dan Patriotisme

Dari adanya pemahaman tentang kesadaran kolektif kedepannya akan memunculkan semangat Nasionalis dan Patriotis.

Dalam arti sederhana, nasionalisme adalah sikap mental dan tingkah laku individu atau masyarakat yang menunjukkan adanya loyalitas atau pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya.[2]

Dalam mendefinisikan perkataan “Nasionalisme”, Stanley Benn menyebutkan, paling tidak, lima hal: (1) semangat ketaatan kepada suatu bangsa (semacam Patriotisme); (2) dalam aplikasinya kepada politik, “nasionalisme” menunjuk kepada kecondongan untuk mengutamakan kepentingan bangsa sendiri, khususnya jika kepentingan bangsa sendiri itu berlawanan dengan kepentingan bangsa lain; (3) sikap yang melihat amat pentingnya penonjolan cirri khusus suatu bangsa, dan, karena itu; (4) doktrin yang memandang perlunya kebudayaan bangsa untuk dipertahankan; (5) nasionalisme adalah suatu teori politik, atau teori antropologi, yang menekankan bahwa umat manusia, secara alami, terbagi-bagi menjadi bangsa dan bahwa ada kriteria yang jelas untuk mengenali suatu bangsa beserta anggota bangsanya.[3]

Namun yang harus dipahami adalah Nasionalisme adalah suatu bentuk Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) tetapi kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain. Jadi Nasionalisme dapat juga diartikan:

  1. Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme.
  2. Sedang dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.

Selanjutnya, pengembangan daripada nasionalisme adalah patriotisme. Patriotisme adalah cinta yang dimiliki oleh seseorang terhadap bangsanya.[4]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian dari Patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya; semangat cinta tanah air.

Reakluatisasi Nasionalisme dan Patriotisme dalam konteks ke-Indonesiaan

Semangat keagamaan yang tidak diimbangi dengan semangat kebangsaan akan memunculkan paham-paham radikal dan ekstrim. Padahal, adanya bangsa Indonesia bukan atas jasa satu agama tertentu saja. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan nilai toleransi harus betul-betul ditekankan kepada benak kita masing-masing.

Selain itu, Apabila kita melihat kenyataan sekarang, khususnya generasi muda, sangat terlihat jelas pudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme. Sebagian besar generasi muda seperti malu dengan budayanya sendiri dan bangga dengan budaya bangsa lain. Sangat sulit kita menemukan anak-anak muda yang bangga menunjukan identitasnya.

Pudarnya semangat ini bila penulis lihat, karena ketidaksiapan kita mengahadapi era globalisasi dan keterbukaan informasi. Apabila terus dibiarkan, suatu saat nanti, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang gagal identitas. Bagaimana mungkin akan tumbuh sifat nasionalis dan patriotis apabila tidak mengenal bangsanya sendiri?

Menjadi tugas kita bersama untuk segera mengatasi hal tersebut sebelum menjadi lebih parah. Karena apabila kita hanya berdiam, sama saja kita menghianati cita-cita pendiri bangsa ini.

[1] Steven Grosby, Nationalism, ( Terjemahan Teguh Wahyu), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, Hal 9

[2] Azyumardi Azra, Demokrasi, HAM, dan Masyrakat Madani. hal 32

[3] Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan dan KeIndonesiaan, Bandung. MIZAN, 2013. Hal 53

[4] Steven Grosby, Nationalism, ( Terjemahan Teguh Wahyu), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, Hal 21

Penulis: Ade (Hukum Keluarga)

Peran dan Posisi Intelektual di Masyarakat

Membicarakan peran dan posisi intelektual dalam masyarakat selalu menuai kearah pertanyaan siapakah intelektual. Membicarakan intelektual teringat atas ungkapan dari Dhaniel Kidae, “ bagaikan menggoreskan garis di atas air yang  mengalir.” Sangat sulit untuk diartikan ungkapan dari dhaniel dharma kidae. Namun, Muammar Kadafi menuturkan bahwa ungkapan ini yang membedakan antara intekektual dan non intektual.

Menurut Seymour Martin Lipset intelektual adalah yang menciptakan, menyebaluaskan, dan menjalankan kebudayaan,” Definisi ini berkaitan dengan suatu struktur dan fungsi sosial tertentu, berarti kita harus melihat peran dan posisi intelektual dalam masyarakat. Bicara mengenai peran dan posisi intelektual juga tidak bisa tidak dilepaskan dari kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan.

Sebuah pandangan mahasiswa indonesia  merujuk kepada kemerdekaan dan reformasi. Pada masa itu , muncul sebuah strata sosial yang disebut dengan istilah masyarakat madani. Starata ini terdiri dari lapis masyarakat yang lebih terdidik, dikirim ke pesantren,sekolah, dan perguruan tinggi dengan tujuan khusus untuk merubah negri ini.

Berkaitan dengan posisi inteltual dalam masyarakat , ada dua pendekatan yang muncul . Dua pendekatan tersebut melihat intelektual sebagai kelas dalam masyarakat, yakni:

Pertama, Pendekatan yang menempatkan intelektual sebagai kelas pada dirinya sendiri. Pendekatan ini meletakkan intelektual berposisi di atas angin. Pendekatan yang kerap disebut dengan benda-isme ini merujuk pada pandangan julien benda yang termuat dalam pengkhiatan kaum cendikiawan. Dia mengatakan bahwa terdapat anatomi antara kekuasaan dan kebenaran, dimana mencari kebenaran adalah pekerjaan kaum intelektual.

Kedua, pendekatan yang mengangap kaum intelektual merupakan bagian dari kelas itu sendiri. Pendekatan ini berakar dari pemikiran Antonio Gramsci. Gramsci menyatakan bahwa “ semua orang adalah intelektual , namun tidak semua orang mempunyai fungsi intektual dalam masyarakat.” Gramsci Membagi Beberapa Tigologi intelektual:

  1. Intelektual Tradisional, yakni intelektual yang menyebarkan ide dan berfungsu sebagai mediator antara massa rakyat dengan kelas atasnya.
  2. Intelektual organik, yakni kelompok intektual yang mempunyai badan penelitian dan studi yang berusaha memberi refleksi atas keadaan namun terbatas untuk kepentingan kelompoknya sendiri.
  3. Intelektual kritis, yakni intelektual yang mampu melepaskan diri dari hegemoni penguasa elite kuasa yang sedang memerintah dan mampu memberikan pendidikan alternatif untuk proses pemerdekaan.
  4. Intelektual universall, yakni tipe intelektual yang berusaha memperjuangkan pemanusiawian dan humanisme serta dihormatinya harkat manusia.

Sedangkan obsesi Gramsci sendiri adalah bagaimana massa rakyat atau siapa saja bisa menjadi intelektual partisipan, yakni intelektual yang ikut dalam suatu kelas tertindas dan berusaha bersama-sama dengan kelompok tersebut untuk melakukan perubahan atas realitas yang menindas mereka dengan seluruh aksi politis dn pendidikan penyadarannya.

 

Oleh/; Bang_Ainur (Kader PMII PMH)

Sumber :Arizal Mtahir dalam . Intelektual Kolektif Pierre Bourdie, dan Mutji Sutrisno, Antara budaya dan Masyarakat.

 

NU Dalam Kontek Ke- Indonesiaan.

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi masyarakat islam di Indonesia yang memiliki jumlah warga terbanyak di Indonesia, bahkan di dunia. Jika kita kembali menelisik sejarah, dimulai dari dibentuknya NU sebagai suatu wadah organisasi kemasyarakatan islam di Indonesia, yakni pada tanggal 31 Januari 1926 M yang bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H di Surabaya, NU sudah memiliki jumlah masa terbanyak dibandingkan organisasi atau partai politik yang ada saat itu. Dan sampai saat ini, NU masih memegang rekor masa terbanyak dari ormas-ormas islam lainnya.
Lalu, bagaimana peran NU dalam konteks ke-Indonesiaan dengan masa terbanyak sebagai ormas islam di Indonesia? Tentunya, kebijakan-kebijakan NU perihal ke-Indonesiaan akan sangat berpengaruh, sebab warga Indonesia banyak yang menjadi warga NU. Gambarannya, jika kebijakan-kebijakan NU bertolak belakang ataupun tidak dalam konteks ke-Indonesiaan, masih akan memberikan pengaruh terhadap negara.
NU didirikan oleh beberapa pendirinya yang dikomando oleh Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari (Jombang) dan di-titahi tentang legitimasi pendiriannya oleh Syaikhona KH. Kholil Bangkalan (Madura), serta yang menjadi wasilah antara dua ulama besar tersebut ialah KHR. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo). Jelas, secara legal standing berdirinya, NU dipromotori oleh ulama-ulama besar yang alim serta kharismatik, juga ulama-ulama yang tak diragukan lagi jiwa nasionalismenya. Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari misalnya, beliau yang memimpin ijtihad para ulama se-Jawa dan Madura perihal hukum membela negara, yang kemudian lahirlah Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 yang menjadi titik tolak bangkitnya semangat “Arek-arek Suroboyo” dibawah komando Bung Tomo dan kemudian terjadi pertempuran pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya. Maka eksistensi dan produktifnya NU sebagai ormas islam di Indonesia terkait ke-Indonesiaan sampai saat ini tidak perlu diragukan lagi, mengingat NU lahir dari para ulama yang memiliki jiwa nasionalisme.
NU juga memiliki 2 paradigma dalam menjalankan organisasinya, baik dalam ruang lingkup sosial masyarakatnya maupun ke-Indonesiaan. Dua paradigma tersebut ialah :
المحافظة على القديم الصالح * والأخذ بالجديد الأصلح
“Menjaga tradisi yang baik * Dan mengambil inovasi baru yang lebih baik”
Berdasarkan dua paradigma tersebut, NU adalah ormas islam yang berprinsip moderat. Ia tak mengubah tradisi yang sudah mengakar di masyarakat dengan catatan tradisi tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip islam. NU juga memberikan pintu terbuka bagi warganya, khususnya bagi generasi mudanya, untuk mengupayakan inovasi-inovasi yang lebih baik, namun dengan catatan tak menggugat tradisi yang ada dan tak bertentangan dengan prinsip-prinsip islam. Bahkan, dalam momentum harlah NU ke-91 pada tanggal 31 Januari 2017, KH. Ma’ruf Amin (Rais ‘Aam PBNU) menambahkan dua paradigma tersebut supaya lebih menginovasi, dengan tambahan :
والإصلاح إلى ما هو الأصلح ثم الأصلح فالأصلح
“Dan melakukan perbaikan kearah yang lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi”
Tambahan tersebut dinilai lebih menambah ruang inovasi bagi warga NU oleh orang nomor satu di tubuh NU tersebut. Dengan argumentasi bahwa arah yang lebih baik itu merupakan sesuatu hal yang dinamis, tidak statis, sehingga terkadang hari ini baik, besok sudah tak baik lagi. Oleh karenanya, harus terus mengupayakan perbaikan (Al-Ishlah) untuk terus menjaga stabilitas “Al-Ashlah” tersebut. Walhasil, dari segi legal standing berdirinya NU dan paradigma yang menjadi acuan dari pemikiran-pemikiran dalam tubuh NU untuk terus mem-produktifkan NU dalam setiap perbedaan ruang dan waktunya dinilai sangat relevan dalam konteks ke-Indonesiaan.
Oleh karenanya, peran NU dalam konteks ke-Indonesiaan sangat besar. NU tidak hanya memberikan Tarbiyah Islamiyyah (keislaman), namun juga memberikan Tarbiyah Insaniyyah (kemanusiaan) dan Tarbiyah Wathoniyyah (kenegaraan) kepada warga dan generasi mudanya. Agar supaya warga nahdliyyin tak hanya menghormati orang yang sesama islamnya saja, tapi menghormati dan menghargai orang lain yang berbeda agama, suku, budaya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dengan landasan Tarbiyah Insaniyyah dan Tarbiyah Wathoniyyah.

Oleh : Syahroni (Kader PMII Muamalat)

Degradasi Mahasiswa: Kental Memberikan Solusi

Kencan intelktual merupakan lembaga kajian PMII Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum, sebut saja kental nama lembaga tersebut. Kental hadir sebagai wadah untuk anggota, dan kader PMII Komisarita Fakultas Syariah dan hukum untuk mengembangkan keilmuan yang fokul mengkaji persoalan situasi nasional dan persoalan lainnya.

Sebagai sebuah lembaga kajian tentunya kental mempunyai berbagai program yang akan menunjang kemampuan anggota, dan kader. Bulan lalu kental fokus mengkaji berbagai situasi nasional seperti densus tipikor dan kita menyatakan sikap menolak pembentukan densus tipikor.

Selain hal itu, kental mencoba berinovasi untuk menyesuaikan kebutuhan anggota, dan kader. PMII Komisariat Fakultas Syaraiah dan hukum untuk membuka ENGLISH CLASS. Di era globalisasi saat ini bahasa inggris sangat diperlukan, karena bahasa inggris sebagai bahasa international yang biasanya digunakan didalam dunia kerja dan pendidikan.

Dengan program tersebut diharapkan agar dapat bersaing didalam dunia pendidiakan dan kerja international. Karena kental mencoba untuk menanggapi sitausi mahasiswa UIN khususnya mahasiswa Fakultas Syariah dan hukum yang tertinggal prestasinya dalam bidang bahasa dengan Perguruan tinggi lain, seperti UI,IPB,dan lainnya.

Selain English Class program yang akan diluncurkan oleh kental adalah kajian filsafat hukum. Sebagai mahasiswa hukun mengkaji dan menguasai filsafat hukum merupakan hal yang sangat wajib, karena filsafat hukum sebagai gerbang untuk dapat menguasai fan ilmu hukum lainnya.

 

Penulis: Bang_ainur

 

 

KENCAN INTELEKTUAL PMII KOMFAKSYAHUM

GERAKAN MAHASISWA

Perubahan tidak akan datang jika kita menunggu untuk beberapa orang lain atau lain waktu. Kita  adalah orang-orang yang sudah menunggu. Kita adalah perubahan yang kita cari.” (Barack Obama)

Gerakan Mahasiswa-selanjutnya disebut GM- di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya. Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, GM sering kali menjadi cikal bakal perjuangan nasional.[1]

Seperti yang telah disampaikan oleh Sahabat Abie Maharullah (Biro Kaderisasi PMII Cabang Ciputat Periode 2015-2016) dalam pembukaan Kencan Intelektual, terbentuknya GM dilatar belakangi oleh beberapa faktor, yaitu:

Pertama, modernisme dalam bidang ekonomi politik yang mengakibatkan terjadinya trasformasi sosial dalam bentuk kolonialisme, imperialisme, dan neo-liberalisme.

Kedua, di Indonesia gerakan mahasiswa mendapat suatu legitimasi sejarah atas keturut sertaannya terlibat dalam gerakan kemerdekaan dan semenjak berdirinya negara menjadi bagian yang diakui dari sistem politik.

Ketiga, kekurangan lembaga dan struktur politik yang mapan. Akibat dari itu adalah relatif mudahnya bagi setiap kelompok yang teroganisir untuk mempunyai dampak langsung terhadap politik.

GM mempunyai catatan sejarah yang sangat panjang. Tetapi, untuk lebih memfokuskan pembahasan, akan diringkas dalam dua periode pasca kemerdekaan, yaitu perjalanan GM sebelum reformasi dan perjalanan GM setelah reformasi.

  1. SEJARAH GERAKAN MAHASISWA DI INDONESIA PRA-REFORMASI

Apabila kita mengikuti perkembangan sejarah GM mahasiswa pasca kemerdekaan dan sebelum refermasi, kita mengenal dengan istilah angkatan ’66, yang menjadi awal kebangkitan GM secara nasional. Sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat keaderahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang kemudian berada pada lingkaran kekuasaan Orde Baru, diantaranya Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi dan lain-lain dengan mengangkat isu komunis pada masa ’66 tersebut.

Masa Orde Baru pada perkembangnnya dikemudian hari, banyak mendapatkan koreksi dari GM seperti dalam gerakan-gerakan berikut:

  1. Gerakan anti korupsi yang diikuti oleh pembentukan Komite Anti Korupsi, yang diketuai oleh Wilopo (1970);
  2. Golput yang menentang pelaksanaan pemilu pertama di masa Orde Baru pada 1972 karena Partai Golkar dinilai curang;
  3. Gerakan menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 1972 yang menggusur banyak rakyat kecil yang tinggal di lokasi tersebut; dan
  4. Gerakan mahasiswa Indonesia 1974. Gerakan memprotes PM Jepang Kakuei Tanaka yang datang ke Indonesia pada 1974. Gerakan ini kemudian berkembang menjadi peristiwa Malari pada 15 Januari 1974, yang mengakibatkan dihapuskannya jabatan Asisten Pribadi Presiden.[2]

Selain daripada GM diatas, juga melewati banyak peristiwa-peristiwa yang dimotori oleh mahasiswa, diantaranya peristiwa Gejayan Yogyakarta, Peristiwa Trisakti Jakarta, Peristiwa Semanggi I dan II serta Peristiwa Lampung. Gerakan-gerakan seperti ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.

Ada satu ketentuan yang menghambat pada masa GM sebelum reformasi yaitu SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan pada tingkat Perguruan Tinggi bernama SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi). Ketentuan ini merupakan sebab dari adanya kebijakan pemerintah tentang Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan atau yang kita kenal dengan sebutan NKK/BKK. Dengan adanya kebijakan NKK/BKK, GM sempat pudar. Kebijakan ini merupakan strategi Soeharto untuk membungkam aksi kritis mahasiswa terhadap jalannya pembangunan dan kebijakan pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan kebudayaan yaitu Daoed Jusuf.

Dampak yang paling terasa dari adanya NKK/BKK adalah semakin terpojoknya organisasi-organisasi gerakan semisal PMII, GMNI, KAMMI dan lain-lain. Karena dengan kebijakan tersebut, mahasiswa menjadi terkekang dengan lingkungan kampusnya. Seperti mengurus jurusan, fakultas dan universitas sedangkan mereka dipaksa menutup mata terhadap lingkungan diluar kampus.

Sekilas tentang NKK/BKK

Bagi GM, era sebelum reformasi mungkin familiar dengan kata tersebut. Karena dengan adanya NKK/BKK ini yang menjadi senjata pemerintahan Orde Baru untuk membungkam GM dalam menyoroti kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Akar sejarah terbentuknya NKK/BKK adalah dari banyaknya aksi-aksi yang dilakukan oleh mahasiswa, puncaknya pada tahun 1974 yaitu ketika meletusnya peristiwa Malari. Peristiwa Malari adalah gerakan pertama mahasiswa secara monumental untuk menentang kebijakan pembangunan Soeharto (Adi Surya: 1999). Pergerakan mahasiswa pada masa ini dengan kental ditunjukan terhadap kebijakan Orde Baru yang pro terhadap Modal Asing sebagai penjajahan baru di Indonesia, terutama Jepang saat itu. GM berikutnya yaitu tahun 1978. Sama halnya dengan gerakan 1974, aksi ini muncul karena kekecewaan mahasiswa terhadap konsep ekonomi yang dijalankan Soeharto serta kekecewaan mahasiswa terhadap praktik politik Orde Baru yang semakin jauh dari nilai-nilai demokrasi  juga dimunculkan. Bahkan, pada masa ini mahasiswa dengan berani mengkampanyekan penolakan terhadap Soeharto yang ingin kembali mencalonkan dirinya menjadi Presiden (Andy Surya Culla: 1999).

Untuk menghindari aksi-aksi berikutnya dari mahasiswa, pemerintah Orde Baru mengeluarkan kebijakan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P & K) , Daoed Joesoef, No 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Disusul dengan SK No. 0230/U/J/1980 tentang pedoman umum organisasi dan keanggotaan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK). Inti dari dua kebijakan ini adalah untuk mengebiri kegiatan aktifitas politik mahasiswa. Dimana mereka hanya cukup memahami politik dalam artian teori bukan praktik. Pemerintah Orde Baru melakukan intervensi dalam kehidupan kampus, dengan dalih stabilitas politik dan pembangunan. Kebijakan ini benar-benar menjauhkan mahasiswa dari realita sosial yang ada sehingga dalam beberapa saat GM seperti “tertidur” dan hanya terfokus ke kehidupan kampus.

Memasuki awal tahun 1990-an, dibawah Mendikbud Fuad Hasan, kebijakan NKK/BKK dicabut dan sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK). Melalui PUOK ini ditetapkan bahwa organisasi kemahasiswaan intra kampus yang diakui adalah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), yang didalamnya terdiri dari Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

  1. SEJARAH GERAKAN MAHASISWA DI INDONESIA PASCA-REFORMASI

Akibat dari diberlakukannya NKK/BKK, yang sempat mematikan GM dan dicabut pada masa Mendikbud Fuad Hasan, justru seperti api dalam sekam, semakin lama semakin kokoh rasa ketertindasan dikalangan mahasiswa sehingga puncaknya terjadi pada bulan Mei 1998. Sebelumnya, diakhir 1997 Indonesia mengalami resesi ekonomi sebagai akibat dari kewajiban untuk membayar hutang luar negeri yang sudah mengalami jatuh tempo. Hutang-hutang ini merupakan “dosa”dari pemerintahan Orde Baru yang terus melakukan pembangunan tanpa memperhatikan keadaan ekonomi Indonesia saat itu. Sehingga, Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan dan berdampak pada melambungnya harga-harga sembako.

Selain itu, dikalangan mahasiswa juga muncul suatu penggalangan massa yang sebelumnya mahasiswa terlihat apatis, hedon, cuek dan lain-lain. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sarlito, mahasiswa yang tergolong aktivis hanya sekitar 7,2 % dan 91,8 %. Namun, penelitian itu seolah menjadi kebalikan dari keadaan yang ada menjelang awal tahun 1998 dimana disetiap pojok kampus terlihat kegiatan-kegiatan yang bersifat politis sifatnya, seperti rapat-rapat koordinasi, pemutaran film-film politik dan lain-lain.

Tetapi pemerintah tidak henti-hentinya melakukan tindakan represif kepada mahasiswa dan puncaknya dengan ditembaknya empat mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998. Penembakan ini memicu kemarahan massa dan rakyat sehigga diluapkan kemarahan itu dalam bentuk perusakan, penjarahan di beberapa tempat di Indonesia sehingga dua hari pasca penembakan tersebut keadaan menjadi tidak terkontrol.

Kemudian mahasiswa secara serempak menduduki simbol-simbol pemerintahan lembaga legislatif, yakni pada tanggal 18 Mei 1998 hingga Presiden Soeharto dilengserkan dari jabatannya.

Pada tanggal 21 Mei 1998, GM yang didukung oleh rakyat mampu melengserkan Soeharto dan mampu menghasilkan amanat reformasi. Amanat Reformasi 1998:

  1. Amandemen UUD 1945
  2. Penghapusan Dwi Fungsi ABRI
  3. Pemberantasan KKN dan Adili antek-antek Orde Baru
  4. Pembudayaan Demokrasi
  5. Penegakan Hukum dan Supremasi Hukum
  6. Otonomi Daerah

Setelah lengsernya Soeharto, Indonesia mengalami masa transisi. Sehingga, setiap orang sama-sama ingin mengisi keadaan tersebut.

Terlaksananya reformasi maka penyampaian ideologi mulai dapat dilaksanakan. Sebab dari sisi Policy pemerintah telah memperoleh Preassure effect. Proses ini mengalami perlambatan terkait instabilitas objek-dalam hal ini pemerintah-, maupun instabilitas subjek-dalam hal ini pelau pergerakan-. Bahkan reformasi ini sempat terlihat jalan ditempat.[3]

Menurut Samuel Huntington, mekanisme transisi politik dari pemerintahan otoriter (Orde Baru) ke Demokrasi (Reformasi) ada empat model yang berkembang, yaitu:

  1. Model Transformasi, dalam hal ini, inisiatif demokrasi berasal dari pemerintah. Pemerintahlah yang melakukan liberalisasi sistem politik.;
  2. Model Replasi, model ini terjadi ketika pemerintah yang berkuasa dipaksa untuk meletakkan kekuasaannya dan kemudian digantikan oleh kekuatan oposisi (sipil).;
  3. Model Transpalasi, model ini merupakan gabungan dari model yang sudah disebutkan diatas. Model ini terjadi karena pemerintah yang berkuasa masih kuat, sementara pihak oposisi belum terlalu solid untuk menjatuhkannya. Maka diupayakanlah berbagai proses negoisasi antara pihak pemerintah dan pihak oposisi tentang bagaimana langkah-langkah yang harus diambil bersama untuk mewujudkan sistem politik yang demokratis secara gradual.; dan
  4. Model Intervensi, model ini terjadi disebabkan oleh keterlibatan pihak eksternal yang turut campur. Contoh kasus yang paling tepat barangkali adalah intervensi angkatan perang AS terhadap pemerintahan Panama dengan tuduhan keterlibatan jaringan perdagangan obat bius. Intervensi ini akhirnya mendorong dilaksanakan pemilu yang demokratis.

Dalam gerakan ’98 sendiri lebih mengarah kepada model replasi dan memasuki transisi menyerupai model transpalasi.

Pada masa-masa transisi inilah banyakan GM yang berkembang. Tidak ketinggalan, banyak GM yang berlatarbelakang Islam juga mencoba memainkan peranannya. Namun sayangnya belum menunjukan ke arah yang mencerahkan.  Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan khususnya untuk GM yang berlatarbelakang Islam. Sehingga, menjadi tugas kita bersama untuk segera menemukan pola gerakan yang sesuai dengan keadaan dan sejalan dengan semangat keIslaman.

[1] Nur Sayyid Santoso Kristeva, “Manifesto Wacana Kiri; Membentuk Solidaritas Organik Agitasi dan Propaganda Wacana Kiri Untuk Kader Inti Ideologis”. Pustaka Pelajar. 2015. Hal. 130

[2] Ibid, Hal 130-131

[3] Ibid., hal 157.

Makna Taqwa

 

Oleh : Murtadho Muttahari

kata “taqwa”termasuk salah satu di antara kata-kata agama yang banyak dikenal dan diucapkan. Di dalam Al Quran al Karim, kata “taqwa”banyak digunakan dalam bentuk isim (kata benda) atau fiil (kata kerja). Penyebutan kata taqwa dalam Al Quran al Karim kira-kira sama banyaknya dengan penyebutan kata “iman” dan “amal”, atau dengan kata “shalat”dan “zakat”, dan lebih banyak dibandingkan kata “puasa”–misalnya. Di antara kata yang banyak disebut dalam kitab Nahjul Balaghah  ialah kata “taqwa”Di dalam kitab Nahjul Balaghah terdapat satu khotbah panjang yang bernama “Khotbah Muttaqin” khotbah ini disampaikan oleh Amirul Mukminin sebagai jawaban atas permintaan seseorang yang menginginkan dijelaskannya sifat-sifat yang menampilkan sosok  orang  yang bertaqwa. Pada mulanya Amirul Mukminin menghindar untuk memberi jawaban,  dan hanya cukup dengan memberi tiga atau empat kalimat jawaban. Namun orang tersebut yang bernama Hammam bin Syarih, seseorang yang memiliki kesiapan dan telah tercerahkan, tidak merasa cukup dengan jawaban itu, dan terus bersikeras dengan  permintaannya.

 

Maka Amirul Mukminin pun mulai berbicara, dan mengakhiri pembicaraannya setelah menjelaskan lebih dari seratus sifat yang menjelaskan karakteristik  spiritual, karakteristik   pemikiran, karakteristik akhlak, dan perbuatan  orang-orang yang bertaqwa. Para Sejarawan menulis bahwa berhentinya pembicaraan  Amirul Mukminin ialah bersamaan dengan jatuh pingsannya Hammam bin Syarih.

 

Maksud dari penjelasan di atas ialah, bahwa kata “taqwa” termasuk salah satu di antara kata-kata agama yang banyak dikenal dan sering digunakan. Di kalangan masyarakat umum pun kata ini banyak digunakan. Kata ini berasal dari akar kata waqyan, yang berarti menjaga dan memelihara. Arti dari kata ittiqa ialah penjagaan. Dalam beberapa penerjemahan (dalam bentuk isim) seperti kata taqwa atau kata muttaqin, kata ini diterjemahkan dengan arti “menjauhi/takut”. Tapi arti atau makna lebih tepatnya dari kata “taqwa” adalah menjaga dan memelihara diri, dan kata muttaqin berarti orang-orang yang menjaga dan memelihara diri.

 

Kata taqwa, dalam pandangan syariat berarti menjaga diri dari hal-hal yang akan menyeret manusia kepada perbuatan dosa, dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan. Hal yang bisa dijelaskan dari penggunaan ungkapan takut kepada Allah adalah bahwa manusia takut akan keadilan Allah. Hal ini pada hakikatnya berkaitan dengan ketakutan akan kesalahan diri, kekhawatiran terhadap pembangkangan hawa nafsu sehingga berada di luar kendali akal dan iman.

 

Makna dan Hakikat Taqwa

Dari penjelasan yang telah disampaikan mengenai kata “taqwa” dari sisi bahasa, sampai pada batas tertentu kita dapat mengetahui makna dan hakikat takwa dari sudut pandang Islam. Namun kita perlu lebih memperhatikan tempat-tempat penggunaan kata ini di dalam nas-nas agama, sehingga menjadi lebih jelas bagi kita apa itu taqwa.

 

Jika manusia ingin mempunyai dasar-dasar pijakan dalam hidupnya, dan mengikuti dasar pijakan itu, baik yang diambil dari sumber agama atau sumber yang lain, maka mau tidak mau ia harus mempunyai jalan tertentu, di mana petaka dan bencana tidak menguasai apa yang dilakukannya. Untuk memiliki jalan tertentu, seseorang harus bergerak ke satu arah dan ke satu tujuan, dan menjaga dirinya dari hal-hal yang sejalan dengan hawa nafsu dan kecenderungan dirinya yang bertolak belakang dengan tujuan dan dasar-dasar pijakan yang diambilnya.

 

Oleh karena itu, “taqwa” dalam artian umum adalah keharusan bagi kehidupan setiap individu yang  ingin menjadi manusia, ingin hidup di bawah komando akal sehat, dan ingin mengikuti dasar-dasar pijakan tertentu.

 

Taqwa ilahi ialah di mana seseorang manusia menjaga dan memelihara dirinya dari hal-hal yang menurut  pandangan agama dan dasar-dasar pijakan yang telah ditetapkan oleh agama merupakan suatu dosa dan keburukan, dan tidak melakukannya. Usaha menjaga diri dari perbuatan dosa, yang dinamakan dengan taqwa, dapat dibagi menjadi dua macam, yakni taqwa yang lemah dan taqwa yang kuat.

 

Bentuk  pertama, ialah di mana seseorang  yang untuk menjaga dirinya dari noda-noda maksiat ia menjauhkan dirinya dari lingkungan yang dapat menjerumuskannya ke dalam perbuatan dosa. Tak ubahnya seperti orang yang menjauhkan dirinya dari lingkungan yang penuh penyakit dan kuman agar tidak terjangkit atau tertular .

 

Jenis takwa yang kedua, ialah di mana di dalam diri manusia terdapat kekuatan yang menjaga dan membentengi akhlak dan rohaninya, sehingga sekiranya dia  tinggal atau  berada di suatu lingkungan yang penuh dengan berbagai fasilitas dan kemudahan untuk berbuat maksiat, maka kekuatan rohani yang ada dalam dirinya itu akan menjaga dan mencegahnya untuk tidak tercemari polusi maksiat. Tak  ubahnya seseorang yang dengan perantaraan suatu alat tertentu menciptakan kekebalan medis di dalam tubuhnya, sehingga kuman penyakit tertentu tidak dapat lagi memberi pengaruh kepada tubuhnya.

 

Pada zaman sekarang, pengertian yang dimiliki masyarakat umum tentang taqwa adalah taqwa dalam bentuk pertama. Sehingga jika dikatakan bahwa si fulan orang bertaqwa, maka artinya dia orang yang berhati-hati, orang yang memilih mengucilkan diri dan orang yang menjauhkan dirinya  dari hal-hal yang akan menjerumuskannya  kepada dosa. Ini bentuk taqwa yang lemah, sebagaimana yang telah kita utarakan.

 

Pemaksaan  Perbuatan

Di dalam kitab-kitab akhlak, terkadang diceritakan kisah orang-orang dahulu. Agar tidak banyak bicara dan mengatakan pembicaraan yang sia-sia dan haram, mereka meletakkan batu kerikil di mulut merekasehingga mereka tidak dapat bicara. Jadi, mereka menciptakan pemaksaan perbuatan pada dirinya. Biasanya mereka menganggap bentuk perbuatan seperti ini merupakan contoh dari kesempurnaan taqwa; padahal melakukan pemaksaan perbuatan untuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa tidak dihitung sebagai sebuah keempurnaan. Jika kita melakukan cara seperti ini (pemaksaan perbuatan) dan melalui cara ini kita tidak melakukan perbuatan dosa, benar kita telah mejauhi perbuatan dosa, namun diri kita tetap saja sebagaimana sebelumnya, yang dikarenakan tidak ada alat dapat melakukan perbuatan dosa.

 

Suatu kesempurnaan baru dihitung manakala terwujud tanpa pemaksaan perbuatan dan dengan memiliki berbagai alat dan fasilitas, seorang manusia menjauhkan dirinya dari perbuatan dosa dan maksiat. Bentuk penjauhan seperti ini, walau –

 

pun dihitung sebagai suatu kesempurnaan, itu hanya dari sisi pendahuluan, ,yaitu diperlukan pada tahap-tahap pertama untuk menemukan “kekuatan  taqwa”. Karena “kekuatan taqwa” baru dapat terbentuk setelah melakukan serangkaian latihan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Akan tetapi, hakikat aqwa bukanlah  perbuatan-perbuatan ini. Hakikat taqwa adalah kekuatan dan kesucian rohani yang menjaga manusia dari perbuatan dosa. Seorang manusia harus berjuang untuk mendapatkan makna dan hakikat taqwa ini.

 

Taqwa dan Kebebasan

Kita telah mengatakan bahwa keharusan dari seorang manusia keluar dari kehidupam hewani dan memilih kehidupan khiupan insani ialah dia harus mengikuti dasar-dasar ajaran tertentu, ,dan keharusan dari mengikuti dasar-dasar ajaran tertentu ialah dia harus membatasi dirinya pada kerangka dasar-dasar ajaran tersebut dan tidak keluar dari batasnya, dan manakala hawa nafsu menggoda dan menggerakkan dirinya supaya kelua dari batas-batas tersbut maka dia menjaga dan meemelihara dirinya untuk tidak keluar. “Menjaga diri” yang diikuti dengan meninggalkan beberapa perkara dinamakan dengan “taqwa”.

 

Kita tidak boleh membayangkan bahwa taqwa adalah suatu kewajiban agama seperti puasa dan salat, melainkan taqwa adalah sebuah keharusan dari kemanusiaan. Manusia jika ingin keluar dari bentuk kehidupan binatang maka mau tidak mau harus memiliki  taqwa.

 

Dengan memperhatikan masalah ini, terutama apa yang dikatakan oleh para pemimpin besar agama mengenai taqwa, di mana mereka menggambarkannya sebagai sebuah benteng, tempat perlindungan dan semacamnya, mungkin saja orang orang yang terbiasa dengan kebebasan, lari dari segala sesuatu yang berbau keterbatasan. Mereka membayangkan bahwa taqwa adalah salah satu musuh kebebasan dan sebuah rantai besi yang diikatkan kepada kaki manusia .

 

Keterbatasan atau Keterjagaan

Sekarang, kita harus menjelaskan bahwa taqwa bukanlah “keterbatasan” melainkan “keterjagaan” Terdapat perbedaan antara keterbatasan dan keterjagaaan. Manusia membangun rumah, adalah untuk menjaganya dari  panas, dingin dan hujan. Apakah rumah menjaga atau membatasi manusia?begitu pula dengan pakaian, apakah ia membatasi atau menjaga kita?. Taqwa bagi jiwa adalah seperti rumah bagi kehidupan, dan seperti pakaian bagi tubuh. Di dalam Al Quran al Karim pun taqwa diibaratkan sebagai pakaian. Di dalamsurah al A’raf ayat 26, setelah Allah SWT menyebutkan sejumlah pakaian tubuh, Allah SWT berfirman, “dan  pakaian taqwa itulah yang  paling  baik.”

 

Nilai dan Pengaruh Taqwa

Amirul Mukminin as, menyebutkan banyak pengaruh taqwa, misalnya, “taqwa adalah terbebas dari segala perbudakan dan keterselamatan dari segala kebinasaan,” atau  dia mengatakan “taqwa adalah obat dari penyakit hatimu, kesembuhan bagi penyakit jasadmu, kebaikan bagi kerusakan dadamu, dan kesucian bagi kekotoran jiwamu.”

 

Taqwa adalah salah satu pilar bagi kehidupan manusia, baik individu maupun sosial. Tidak adanya taqwa menjadikan fondasi kehidupan manusia menjadi goyah. Karena itu taqwa adalah salah satu dari hakikat  dari kehidupan.

 

Pada masa sekarang kita memiliki banyak  permasalahan sosial, yang sedikit banyak menyita pemikiran kita. Perceraian yang meningkat, pembunuhan, kejahatan dan pencurian bertambah banyak. Mengapa semua ini terjadi?

 

  • Tidak diragukan lagi bahwa lemahnya kekuatan iman dan rusaknya barikade taqwa merupakan faktor penting dari kerusakan-kerusakan ini. Jalan keluarnya adalah adanya kepandaian, keimanan dan ketaqwaan  dalam setiap diri individu dalam masyarakat.

 

Dua Pengaruh Besar  Taqwa

Pada pembahasan taqwa yang kedua ini akan dikemukakan dua pengaruh penting taqwa yang disebutkan dalam Al Quran al Karim. Dua pengaruh taqwa itu ialah : Pertama, ketajaman penglihatan batin, sebagaimana disebut dalam surat al Anfal ayat 29, “Jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya  Dia akan memberikan furqon (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil) kepadamu.”

 

Yang kedua, ialah terselesaikannya berbagai kesulitan, menjadi mudahnya berbagai pekerjaan dan dapat keluar dari berbagai masalah dan bencana. Hal  ini sebagaimana firman Allah SWT di dalam surah ath-Thalaq ayat 2, yang berbunyi, “Barang siapa  yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan menciptakan jalan keluar baginya.”

 

Dalam surah yang sama, dua ayat sesudahnya Allah SWT berfirman, “Dan barang siapa yang bertaqwa kepada  Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya..”

 

Taqwa dan Ketajaman Penglihatan Batin

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah telah bersabda, “Perangilah hawa nafsumu sehingga hikmah masuk ke dalam hatimu”.

 

Juga terdapat hadits Nabi saw  yang lain, penukilannya terkenal dalam seluruh kitab hadits. Hadits ini berbunyi, “barangsiapa yang berlaku ikhlas kepada Allah selama empat puluh hari, maka air mata hikmah akan mengalir dari hatinya ke lisannya.”

 

Penjelasan-penjelasan seperti ini sangat banyak sekali dalam hadits-hadits, yang mengatakan secara langsung ataupun tidak langsung bahwa taqwa dan kesucian diri dari dosa berpengaruh kepada ketajaman dan kepandaian batin. Demikian juga sebaliknya ; hadits-hadits yang mengatakan bahwa penyembahan hawa nafsu dan lepasnya kendali taqwa merupakan sebab kelamnya  hati dan padamnya cahaya akal.

 

Taqwa dan Hikmah ‘Amali

Para hukama mempunyai istilah, bahwa akal terbagi kepada dua bagian, yaitu akal ‘amali  (hikmah praktis) dan akal Nazhari (hikmah teoritis). Akal ‘amali ini adalah sesuatu yang menjadi dasar bagi ilmu-ilmu kehidupan, menjadi dasar prinsip akhlak. Di dalam akal ‘amali yang menjadi bahan pembicaraan adalah pekerjaan apa  yang harus dilakukan,  pengertian tentang kebaikan dan keburukan, yang harus dan yang tidak boleh, yang halal dan yang haram.

 

Adapun yang disebut dalam hadits bahwa taqwa menerangi akal dan membukakan jendela hikmah kehadapan manusia, adalah berkaitan dengan akal ‘amali. Artinya dengan pengaruh taqwa seseorang dapat lebih mengenal penyakit dirinya, obat dirinya dan jalan yang harus ditempuh dalam kehidupannya.

 

Taqwa dan Pelembutan Emosi & Perasaan

Taqwa dan kesucian jiwa dapat  melembutkan emosi dan perasaan. Artinya, taqwa dan kesucian jiwa menjadikan emosi dan perasaan menjadi lembut dan halus. Seorang manusia yang bertaqwa, yang menjauhi perbuatan-perbuatan yang buruk dan kotor, menjauhi perbuatan riya dan menjilat, yang menjaga kemuliaan dan kemerdekaan dirinya, yang pusat perhatiannya adalah masalah-masalah spiritual, tidak sama perasaan dan emosinya dengan orang yang tenggelam dalam perbuatan keji dan hina, yang terlalu karam dalam masalah bendawi. Tentu tidak diragukan lagi, emosi dan perasaan orang yang bertaqwa lebih tinggi dan lebih lembut. Dia bisa lebih merasakan keindahan akal di alam wujud ini.

 

Kalaulah sastra atau syair-syair merupakan ekspresi dari kelembutan perasaan dan kesensitifan hati, kita dapat temukan betapa syair-syair  para  sufi penyair jaman dahulu – seperti Sa’di dan Hafiz – begitu menyentuh hati. Dan itu jarang kita temukan sekarang ini. Padahal dunia telah semakin maju, pemikiran telah telah begitu berkembang.

 

Ini tentu suatu teka-teki, tapi yang pasti adalah bahwa seorang pribadi manusia yang kotor dan penuh dosa, betapapun tinggi  kecerdasan dan kepandaian yang dimilikinya, dia lemah untuk bisa memahami kelembutan-kelembutan spiritual, dan tidak mampu menciptakan makna-makna lembut yang dapat ditemukan pada beberapa ucapan dan perkataan.

 

Taqwa dan Kekuatan Kemenangan Menghadapi Segala Kesulitan

Adapun pengaruh taqwa yang lain adalah sebagaimana terdapat dalam Al-Quran al-Karim :

Barangsiapa yang  bertaqwa  kepada Allah niscaya Allah akan menciptakan jalan keluar baginya.” (QS. ath Thalaq :2) .

Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan                dalam urusannya.  (QS. Ath-Thalaq :4)

 

Di sini timbul pertanyaan, apa hubungan antara taqwa yang merupakan satu keistimewaan jiwa dengan kemenangan menghadapi berbagai masalah dan kesulitan.

 

Dua Macam Bentuk Kesulitan

Pertama-tama harus dijelaskan dulu, bahwa kesulitan yang datang menghampiri  manusia ada dua macam:

Pertama, kesulitan yang keinginan manusia sama sekali tidak  ikut campur  di dalamnya. Seperti seorang  menaiki kapal terbang lalu kapal terbangnya mengalami kerusakan; atau dia menaiki kapal laut lalu terjadi topan dan badai yang dahsyat sehingga hampir menenggelamkan kapalnya. Hal  tidak diperkirakan sebelumnya dan tanpa keinginan atau ikhtiar  manusia dapat ikut campur didalamnya. Kedua,  berbagai  musibah dan kesulitan yang disebabkn oleh adanya  keinginan dan ikhtiar manusia. Dengan kata lain kesulitan ini bersifat akhlak dan sosial.

 

Jadi, di sini ada dua masalah. Pertama pengaruh taqwa dalam keselamatan manusia dari kesulitan-kesulitan bentuk pertama; dan kedua, pengaruh taqwa dalam keselamatan manusia dari kesulitan-kesulitan bentuk kedua.

 

Lalu bagaimana dengan dua ayat di atas tadi. Dalam Kitab Nahjul Balaghah  yang bisa dianggap sebagai tafsiran dari ayat tersebut terdapat jawaban mengenai hal ini : “Ketahuilah, barangsiapa bertaqwa kepada Allah maka Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari berbagai fitnah, dan cahaya dari berbagai kegelapan.”  Yang dimaksud dengan fitnah ialah kesulitan-kesulitan akhlak dan sosial.

 

Kesulitan atau musibah dalam bentuk pertama jarang terjadi. Pokok berbagai kesulitan dan musibah yang datang menghampiri manusia, yang membuat kehidupannya menjadi sulit dan yang merampas kebahagiaan dunia dan akhiratnya adalah musibah-musibah yang bersifat akhlak dan sosial.

 

Dengan memperhatikan bahwa kebanyakan sumber berbagai kesulitan yang dihadapi setiap manusia adalah dirinya sendiri, dan musuh yang paling  keras bagi setiap manusia adalah dirinya sendiri, maka setiap orang menjadi penentu bagi nasibnya.

 

Kebanyakan musibah yang datang  kepada  kita bukan datang dari luar, melainkan dari diri kita sendiri yang membuatnya untuk diri kita. Dengan memperhatikan masalah ini, akan menjadi jelas bahwa betapa senjata taqwa sangat berpengaruh dalam menjauhkan manusia dari berbagai fitnah dan musibah, maka niscaya taqwa akan menyelamatkannya. Allah SWT berfirman dalam surah al-A’raf ayat 201 :

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat Allah, maka ketika itu juga mereka ingat akan kesalahan-kesalahnya.

 

Dengan dalil inilah taqwa mempunyai pengaruhnya yang pertama, yaitu berupa ketajaman penglihatan, dan juga pengaruhnya yang kedua, yaitu berupa keselamatan dari berbagai kecelakaan dan musibah. Kesulitan-kesulitan ditemukan di dalam kegelapan, dan kegelapan adalah debu dosa dan hawa nafsu. Ketika cahaya taqwa ditemukan maka jalan dan jurang dapat dibedakan, dan manusia akan lebih sedikit ditimpa kesulitan; dan kalau pun manusia ditimpa kesulitan maka dengan cahaya taqwa dia dapat lebih mudah menemukan jalan keluar.

 

Di samping semua yang disebutkan di atas, taqwa menjadikan manusia tidak menghambur-hamburkan kekuatan cadangan yang ada dalam dirinya kepada hal yang sia-sia. Jelas, seorang yang kuat memiliki tekad dan berkepribadian, dapat dengan lebih baik mengambil keputusan dan menyelamatkan dirinya, sebagaimana Allah telah menetapkan bahwa memiliki cahaya merupakan satu jalan bagi keselamatan dan kebebasan; dan begitu juga memiliki kekuatan. (MH)

 

 

 

Dikutip dari buku ceramah Sayyid Murtadha Muthahhari mengenai persoalan-persoalan penting agama dan kehidupan dengan sedikit penyesuaian