Semua tulisan dari PMII KOMFAKSYAHUM

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum Cabang Ciputat "Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh" Twitter : @komfaksyahum facebook : pmii komfaksyahum Ig : @pmii_komfaksyahum

Mengenal Diri dan Mengenal PMII

cropped-logopmii-resmi.png

 

 

Banyak dari kader PMII yang tidak mengetahui PMII seutuhnya, penjiwaan dan pemahaman anggota terhadap identitas PMII sangatlah minim. Pernyataan ini berangkat dari fakta empiris bahwa masih banyak anggota yang tidak dapat mengatakan kembali secara lengkap apa tujuan PMII, bagaimana isi dari AD/ART, sejarah perkembangannya, asal-usul dan pemaknaan dari nilai-nilai filosofis yang ada pada tubuh PMII. Pesan penting pada tulisan ini yaitu: “Kembalilah kepada PMII”. Pesan tersebut akan mengiringi langkah pembaca pada esaay kali ini.

Bagi anggota baru, Mapaba (Masa Penerimaan Anggota Baru) merupakan atmosphere ideologis yang mengorbitkan nilai dan norma, yang berkembang di tubuh organisasi ini. Bagi anggota lama -yang terlampau tak sadar, Mapaba merupakan ajang refleksi ulang dan penjiwaan untuk mengenal kembali apa itu PMII, semacam proses evalusasi diri sudah sejauh mana kita bergerak menuju cita-cita sempurna.

Mungkin saja jika saya bertanya kepada para anggota, bisakah kita menjelaskan ulang apa itu Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Aswaja), bagaimana pengamalan dari Nilai Dasar Pergerakan (NDP), dan apa itu PMII secara kelembagaan. Kebanyakan dari kita hanya dapat menjelaskan yang intinya saja. Ini sama seperti jika kita mengatakan, “hidupku ini intinya harus makan, minum, belajar, kerja, dan sukses.” Ya, intinya seperti itu. Tidak salah memang jika ada yang menjawab seperti itu. Namun, alangkah mewahnya jika kita dapat mengatakan, “Otakku ini diciptakan untuk berfikir dan memerintah organ tubuhku, maka Aku hidup di dunia ini harus beramal baik dan bermanfaat bagi sekitar.” Atau, “Aku lahir pada tanggal 17 April, Ibu ku melahirkanku dengan susah payah, penuh pengrobanan uang dan nyawa, maka Aku akan menjaga diri ini sebagaimana Ibu ku memperjuangkan hidup ku agar dapat hidup ke dunia.”

Kedua pernyataan ini memang berbeda penyampaiannya, yang satu sederhana dan apa adanya; yang kedua adalah penuh keyakinan, penghargaan diri, dan percaya diri. Tapi kita jangan melihat dari apa yang mereka sampaikan, namun lihatlah sebagaimana mereka meresapi kehadiran dirinya di dunia. Sebagaimana kita mewakafkan diri kita di PMII, dan kesadaran PMII di tengah-tengah masyarakat.

 

Oleh: Nabil Hafidz ( Kader PMII HES)

Iklan

Krisis Pemikiran dan Keberanian

560-dc3be82a485df6be3cf0c41f78db1158

 

Pemikiran kita saat ini, didominasi beberapa isu politik dan kebijakan hukum yang rancu. Masalah mayoritas yang tunggal yang diasosiasikannya dengan beberapa partai besar yang mengaburkan kenyataan tingginya kadar perpecahan dalam negara ini. Perpecahan tersebut diperkirakan hanya sebagai sebuah mata rantai dari proses demokratisasi. Padalah yang terjadi adalah perbenturan kepentingan yang tidak menyangkut kepentingan orang banyak. Katakanlah terjadi sebuah dinamika dalam kubu Koalisi Merah Putih yang kian hari bermunculan partai yang keluar.

Juga, isyu mengenai “Pengangguran dan Kemiskinan”. Tidak jelas yang dimaksudkan, Meningkatkan lapangan pekerjaan atau meningkatkan taraf hidup orang miskin. Ketidak jelasan yang lahir dari kerancuan definisi akan penyelesaian masalah tersebut.

Era Modernisasi dan era globalisasi juga menjadi tanda belantara kerancuan istillah yang semakin mencekam kita. Word globalisasi dan modernisasi sebenarnya melekat pada tahapan yang sedang berjalan, dan tidak mengacu pada ruang dan waktu manapun. Sebaliknya , pemakaian ruang wakyu lebih banyak untuk produk yang dihasilakan proses itu sendiri. Dengan demikian , seharusnya kita berbicara tentang globalisasi dan demokratisasi, yang menuju pada era modernitas kehidupan.

Tidak heran jika kerancuan berpikir menjadi sangan luas, dan dengan kerancuan itu proses berfikir menjadi stagna. Kerja berfikir tidak lagi ditekankan untuk mencari sebuah gagasan –gagasan baru yang akan memperluas jangkauan pandangan kita. Pembicaraan kita terhenti pada klasifikasi masalah-  masalah bagaimana harus berpikir, bukannya membahas yang sebenarnya kita pikirkan.

Bung karno menjadi sosok teladan bagi pemuda- pemuda bangsa saat ini. Beliau tokoh sekalius Founder Father yang tegas, berani dan tentunya cerdas. Berbeda sekali ketika kita mengamati kehidupan masa lampau yang penuh dengan sejarah, seperti halnya ketika kita digentarkan oleh perang dunia kedua dimana indonesia menjadi negara yang berada diteritorial yang strategis untuk menjadi markas kedua belah pihak yang melakukan peperangan.

Namun, negara ini begitu hebat dan begitu berani dan bijak dalam memutuskan sebuah keputusan. Dimana ungkapan bungkarno bahwa kita tidak memihak kepada blok barat dan blok timur. Itu merupakan sebuah keputusan yang sangat berani, kita lihat hampir semua negara yang ada di dunia ini pastinya akan memihak kepada dua blok tersebut. Contohnya inggris memihak kepada blok barat, ataupun jepang yang memihak kepada blok timur, tapi melihat keputusan bung karno menunjukan bahwa kita dala menegakan kebaikan dan kebenaran harus berani.

 

 

Oleh: Hilman Rifki (Kader PMII PMH)

WHERE IS YOUR MOVEMENT? PMII KOMFAKSYAHUM

 

 

Bendera PMII Uk 90x60

 

 

For the first I come a big organization ,who gave birth to famous people especially in Indonesia ,which is base on islam . PMII that is name organization ,which Is very famous for yellow blue in its flag ,which has meaning in every picture in its flag. Who didn’t know PMII? The answer is my self,from children until high school I do not know PMII,  I am know PMII at state islamic Jakarta . so how about if myself didn’t studying here , my whole life will to not know what a PMII ? I am sure that really much youngsters do not know PMII like me, it is started from junior high school, senior high school until student at university . so how we should  introduce this organization?

So why  people do not know PMII?,what is wrong?what is missing? In my opinion I think that wrong is members of PMII itself ,why? I said like that cause really much members of PMII Do not know what is the real movement ,what should they do etc. and especially I see at PMII komfaksyahum.

As a big organization  we should do a real action for the momevment in this organization, if we only has very much members but not acting and no doing anything to kompaksyahum so for what that? Or only  hangoiting at besment faculty ,under tree, so for what that? As we know PMII kompaksyahum need multitalent members to bring this organization to be better. We donot need members like this, we need  a member has a big comintment,big action,and big future goals. For example   members of hindrets of PMII kompaksyahum  only ten people activing to join engglish class. So this is really great activity but why so a few  followers ?

I has  a suggestion for all members of PMII kompaksyahum to be better ,come on we movement ,do something,do what we can,not only hang out not clear and spend our time, for exsample we do positive activity social service,show talent and interest like playing futsal, playing basketball,playing table tennis and etc, and then we make a group discussion exsample like a , group of scientists,group of sport,group of entrepreneurship,group of language ,group of mueslim discussion and another else.

So what is real action already us to do? As time went  I hope who  Is read this my note can get’s a big profit and do special at PMII kompaksyahum to be better.

At the last time but not least I say thank to you for all  people reading my writing and I say really big thanks to my sahabat/sahabati from HPI Semester 2 especially izzul,amlina,annisa,Yasser,amir,fahrul,andika,azzer,maulana,syarif and farhan  what again I say big thanks  to bring me at this organization from zero until know. We know in the class we are minority but I really sure we can be better from the majority aamiin,keep solid,and always keep the relationship. And then thanks to brother ali maksum, fayed,hasin etc to always guide us. then thanks to all members of english class especially mr faisal,miss abel,and miss nadia assegaf.

I am sorry for my misstake and I close Whith saying.

 

By: Deswir Saputra (Kader HPI Smt 2)

PMII KOMFAKSYAHUM : KADERISASI PENCIPTA REGENERASI

Bedah Kaderisasi periode 2017-2018. di Asrama Putri PMII, Ciputat, Tanggerang Selatan. Bedah Kaderisasi di laksanakan Rabu, 7 maret 2018. Sahabat Abdul Wahid Hasyim Ketua Bidang Kaderisasi PC PMII Ciputat menjadi narasumber dalam kegiatan ini.

Kegiatan ini diikuti oleh anggota PMII Komfaksyahum angkatan 2016- 2017, “peserta sangat antusias dalam diskusi menyoal kaderisasi, terlebih di jelaskan juga strategi pendampingan kader oleh narasumber, karena ini menjadi penting mengingat PMII merupakan organisasi kaderisasi” Ujar Dede Ihsanuddin Sekretaris Umum PMII Komfaksyahum 2017-2018 (7/3/2018).

PMII Komisariat Fakuktas Syariah & Hukum (Komfaksyahum) sebagai salah satu komisariat di bawah wilayah kerja PMII Cab. Ciputat, sangat memperhatikan betul persoalan kaderisasi. “Sukses atau tidaknya sebuah institusi organisasi dapat diukur dari kesuksesannya dalam proses kaderisasi internal yang di kembangkannya. Karena, wujud dari keberlanjutan organisasi adalah munculnya anggota dan kader yang memiliki kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika organisasi untuk masa depan” tutur Ishak Kabiro Kaderisasi PMII Komfaksyahum 2017-2018 (7/3/2018).

“Kegiatan seperti ini harus senantiasa di adakan karena saya merasa banyak informasi terkait kaderisasi dan lain sebagainya yang tidak saya dapatkan di tempat lain, hal ini juga menjadi gambaran bahwa pentingnya mahasiswa mengikuti organisasi. “Jawab Abi Kausar anggota PMII Komfaksyahum yang juga peserta bedah kaderisasi.

Kaderisasi menjadi tanggung jawab bersama setiap anggota dan kader PMII Komfaksyahum, lebih dari itu rekruitmen anggota baru di kampus menjadi salah satu jalan berdakwah untuk menyebarkan Faham Ahlusunnah Waljamaah yang juga menjadi Ideologi PMII guna menangkal Faham Radikalisme di kampus-kampus. Kesimpulan narasumber.

(Nabil Hafidz)

PMII: TUNTASKAN KADERISASI TUNTAS MENGENAL JATI DIRI

Pelatihan Kader Lanjut (PKL) angkatan II periode 2017-2018 di bawah pimpinan Ketua PC PMII Ciputat Abdurahman Wahid.,S.Sos. di Balai Pelatihan Kementrian Desa, Ciracas, Jakarta timur. PKL di laksanakan 1-4 maret 2018. Diantaranya yang menjadi narasumber adalah Hery Herianto Azumi Ketua Umum PB PMII 2005-2008, Adin Jauharudin Ketua Umum PB PMII 2011-2013, Aminudin Ma’ruf Ketua Umum PB PMII 2014-2016, Dr. Rumadi Ahmad pemangku Ketua Lakpesdam PBNU.

Kegiatan ini diikuti oleh peserta beberapa delegasi Komisariat di bawah wilayah kerja PC PMII Ciputat. Delegasi tersebut banyak di antaranya Badan Pengurus Harian (BPH) di masing-masing Komisariat. “Peserta sangat pro aktif dan ketertarikan penuh terhadap isi materi,terbukti setiap peserta mengunggah video review materi di akun Instagram masing-masing dengan hestage #pklpmiicabangciputat2018 ” Ujar Wahid Hasyim Ketua Bidang Kaderisasi PC PMII Ciputat (3/3/2018)

PMII Komisariat Fakuktas Syariah & Hukum (Komfaksyahum) sebagai salah satu komisariat di bawah wilayah kerja PMII Cab. Ciputat mendelegasikan tujuh kader terbaiknya, yaitu: Siti Anisa Mahfudzoh, Nadia Assegaf, Arif Fadilah, Dede Ihsanuddin, Yayah Rodiah, Amil Haq, Ahmad Fathoni.”Kaderisasi menjadi hal yang sangat penting untuk diikuti, karena menjadi sebuah prestasi dan kebaggaan tersendiri, lebih dari itu menjadi sebuah kewajiban guna meneruskan tongkat estafet kepengurusan di masing-masing wilayah” tutur Arif Fadilah Ketua PMII Komfaksyahum sekaligus peserta PKL II PC PMII Ciputat. (3/3/2018)

Masa penerimaan anggota baru., Mu’taqid, Pelatihan Kader Dasar Mujahid., Pelatihan Kader Lanjut., Mujtahid adalah penyematan bagi seluruh kader yang sudah tuntas dalam kaderisasi formal di PMII. Mahasiswa yang baik adalah mereka yang mau berorganisasi sebagai bentuk implementasi keilmuan. kesimpulan Narasumber.

(Zaqi Aunurrofiq)

Warga PMII Torehkan Gelar Wisudawan Terbaik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

Alhamdulillah dengan puja dan puji syukur kehadirat Ilahi Rabbi, kami keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum (PMII KOMFAKSAYAHUM) UIN Jakarta Cabang Ciputat mengucapkan Selamat dan Sukses kepada sahabat/i yang telah wisuda, semoga menjadi modal awal untuk memberikan manfaat yang lebih untuk pribadi dan umumnya kepada seluruh insan.

“Ini menjadi salah satu bukti bahwa organisasi PMII KOMFAKSYAHUM mampu mencetak kadernya lebih unggul dan memberikan manfaat baginya.” tutur Arif Fadilah, Ketua Umum PMII KOMFAKSYAHUM. Arif mengungkapkan rasa syukur dan bangganya terlebih kepada wisudawan terbaik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta Sahabati Arya Chairu Nisa (Jurusan Hukum Pidana Islam) dengan IPK 3.70 Cumlaode, setelah tahun sebelumnya wisudawan terbaik Fakultas Syariah dan Hukum di torehkan oleh Sahabati Bella Awaliyah Agustina (Jurusan Ilmu Hukum) dengan IPK 3.80 Cumlaude dan Sahabat Lutfan Dimas Pratama (Jurusan Hukum Keluarga) dengan ipk 3.79 Cumlaude. “Hal ini mematahkan stigma banyak orang yang mengatakan bahwa orang yang mengikuti organisasi PMII akan membuat dirinya tidak berkembang dan akan terbengkalai kuliahnya”, pungkasnya.

Semangat dan selamat Sahabat-Sahabati.

Penulis: Pionner PMII KOMFAKSYAHUM

Memaknai Kembali Nasionalisme dan Patriotisme

Sebelum mendiskusikan terkait nasionalisme dan patriotisme, perlu dipahami terlebih dahulu tentang apa yang melatarbelakangi perlunya sifat dari dua paham diatas.

Bangsa adalah suatu hal yang memunculkan sifat nasionalis dan patriotis, jadi perlu kiranya untuk mengetahui apa arti dari sebuah bangsa.

Bangsa adalah wilayah komunitas dari tanah kelahiran. Seseorang dilahirkan kedalam suatu bangsa. Signifikansi yang dicirikan pada fakta biologis kelahiran berkembang ke dalam sejarah, struktur territorial dari komunitas kebudayaan atas bangsa adalah mengapa bangsa merupakan salah satu di antara sejumlah bentuk kekerabatan. Ia berbeda dari bentuk kekerabatan lain seperti keluarga karena sentralitas territorial. Ia juga berbeda dari komunitas kewilayahan lain seperti suku, negara kota, atau berbagai ‘kelompok etnis’ lain, tidak sekedar karena keluasan wilayah yang lebih besar, namun juga karena budaya yang relative seragam, menyediakan stabilitas yang berkelanjutan seiring dengan waktu.[1]

Definisi bangsa diatas tidak bisa dipahami dengan sekilas saja, perlu pemahaman yang lebih mendalam tentang pengertian dari bangsa yang ditawarkan oleh Steven Grosby.

Ada tiga komponen kenapa suatu kumpulan masyarakat dinamakan bangsa. Pertama, Waktu, dalam pembentukan sebuah bangsa dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena kesadaran kolektif yang dibangun membutuhkan waktu yang panjang dan banyak melewati kejadian-kejadian yang nantinya akan menumbuhkan kesadaran bersama. Seperti adanya perang melawan Belanda, Sumpah pemuda dan lainnya merupakan sebuah rangkaian kejadian yang secara perlahan-lahan menumbuhkan semangat senasib seperjuangan. Komponen waktu ini –ketika suatu pemahaman masa lalu membentuk bagian dari masa kini- merupakan karakteristik bangsa dan disebut sebagai ‘kedalaman tentang waktu’. Kedua, Ingatan, banyaknya rangkaian kejadian yang dilalui bersama, semakin membentuk rasa kebersamaan antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga ingatan-ingatan akan kejadian masa lalu membentuk sebuah relasi. Selain itu, kesamaan bahasa karena terbentuk oleh adanya ingatan terhadap apa yang didapatnya memberikan pemahaman kepada dirinya mengenai perbedaan dengan kelompok lain yang berbicara dengan bahasa berbeda. Maka, bangsa adalah hubungan sosial dari kesadaran diri kolektif. Dan Ketiga, wilayah, tindakan mencari dan menempatkan suatu klaim ke masa lalu beserta lokasinya menciptakan keberlanjutan antara masa lalu itu dan lokasinya dengan masa kini beserta lokasinya. Keberlanjutan ini dipandang sebagai pembenaran tatanan masa kini karena ia dipahami sebagai dengan semestinya telah mengandung masa lalu. Seseorang dengan cara demikian mengakui dirinya merupakan bagian dari wilayah tersebut yang memiliki masa lalunya, pada situasi seperti ini , keberadaan suatu masyarakat yang dibentuk oleh kewilayahan dan diyakini akan bertahan seiring dengan waktu; dan inilah apa yang dimaksudkan dengan istilah bangsa.

Ringkasnya, bangsa adalah relasi teritorial dari kesadaran diri kolektif terhadap durasi aktual maupun imajinasi.

Nasionalisme dan Patriotisme

Dari adanya pemahaman tentang kesadaran kolektif kedepannya akan memunculkan semangat Nasionalis dan Patriotis.

Dalam arti sederhana, nasionalisme adalah sikap mental dan tingkah laku individu atau masyarakat yang menunjukkan adanya loyalitas atau pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya.[2]

Dalam mendefinisikan perkataan “Nasionalisme”, Stanley Benn menyebutkan, paling tidak, lima hal: (1) semangat ketaatan kepada suatu bangsa (semacam Patriotisme); (2) dalam aplikasinya kepada politik, “nasionalisme” menunjuk kepada kecondongan untuk mengutamakan kepentingan bangsa sendiri, khususnya jika kepentingan bangsa sendiri itu berlawanan dengan kepentingan bangsa lain; (3) sikap yang melihat amat pentingnya penonjolan cirri khusus suatu bangsa, dan, karena itu; (4) doktrin yang memandang perlunya kebudayaan bangsa untuk dipertahankan; (5) nasionalisme adalah suatu teori politik, atau teori antropologi, yang menekankan bahwa umat manusia, secara alami, terbagi-bagi menjadi bangsa dan bahwa ada kriteria yang jelas untuk mengenali suatu bangsa beserta anggota bangsanya.[3]

Namun yang harus dipahami adalah Nasionalisme adalah suatu bentuk Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) tetapi kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain. Jadi Nasionalisme dapat juga diartikan:

  1. Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme.
  2. Sedang dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.

Selanjutnya, pengembangan daripada nasionalisme adalah patriotisme. Patriotisme adalah cinta yang dimiliki oleh seseorang terhadap bangsanya.[4]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian dari Patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya; semangat cinta tanah air.

Reakluatisasi Nasionalisme dan Patriotisme dalam konteks ke-Indonesiaan

Semangat keagamaan yang tidak diimbangi dengan semangat kebangsaan akan memunculkan paham-paham radikal dan ekstrim. Padahal, adanya bangsa Indonesia bukan atas jasa satu agama tertentu saja. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan nilai toleransi harus betul-betul ditekankan kepada benak kita masing-masing.

Selain itu, Apabila kita melihat kenyataan sekarang, khususnya generasi muda, sangat terlihat jelas pudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme. Sebagian besar generasi muda seperti malu dengan budayanya sendiri dan bangga dengan budaya bangsa lain. Sangat sulit kita menemukan anak-anak muda yang bangga menunjukan identitasnya.

Pudarnya semangat ini bila penulis lihat, karena ketidaksiapan kita mengahadapi era globalisasi dan keterbukaan informasi. Apabila terus dibiarkan, suatu saat nanti, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang gagal identitas. Bagaimana mungkin akan tumbuh sifat nasionalis dan patriotis apabila tidak mengenal bangsanya sendiri?

Menjadi tugas kita bersama untuk segera mengatasi hal tersebut sebelum menjadi lebih parah. Karena apabila kita hanya berdiam, sama saja kita menghianati cita-cita pendiri bangsa ini.

[1] Steven Grosby, Nationalism, ( Terjemahan Teguh Wahyu), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, Hal 9

[2] Azyumardi Azra, Demokrasi, HAM, dan Masyrakat Madani. hal 32

[3] Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan dan KeIndonesiaan, Bandung. MIZAN, 2013. Hal 53

[4] Steven Grosby, Nationalism, ( Terjemahan Teguh Wahyu), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, Hal 21

Penulis: Ade (Hukum Keluarga)