Arsip Kategori: ::> Islam Nusantara

Doktrin Aswaja di Bidang Sosial-Politik

Oleh: KH Said Aqil Siradj*

Berdirinya suatu negara merupakan suatu keharusan dalam suatu komunitas umat (Islam). Negara tersebut dimaksudkan untuk mengayomi kehidupan umat, melayani mereka serta menjaga kemaslahatan bersama (maslahah musytarakah). Keharusan ini bagi faham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) hanyalah sebatas kewajiban fakultatif (fardhu kifayah) saja, sehingga –sebagaimana mengurus jenazah– jika sebagian orang sudah mengurus berdirinya negara, maka gugurlah kewajiban lainnya.

Oleh karena itu, konsep berdirinya negara (imamah) dalam Aswaja tidaklah termasuk salah satu pilar (rukun) keimanan sebagaiman yang diyakini oleh Syi’ah. Namun, Aswaja juga tidak membiarkan yang diakui oleh umat (rakyat). Hal ini berbeda dengan Khawarij yang membolehkan komunitas umat Islam tanpa adanya seorang Imam apabila umat itu sudah bisa mengatur dirinya sendiri.

Lanjutkan membaca Doktrin Aswaja di Bidang Sosial-Politik

NU Mazhab Revisionis

Oleh: Muhammad Soffa Ihsan

Masih terngiang-ngiang dalam benak saya saat silaturahmi ke rumah KH Said Aqiel Siradj di Ciganjur beberapa tahun silam. Dia bilang,”Ibu saya mengharapkan saya bisa menjadi ketum PBNU. Kalau jabatan menteri agama, ibu saya malah tidak terlalu mendukung.”

Saat itu, memang lagi santer kalau kyai asal Cirebon ini diisukan akan diangkat menjadi menteri agama di jajaran kabinet SBY. Ya, kata-kata tersebut kini telah mewujud. Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj MA telah terpilih menjadi ketua tanfidziyah PBNU bersama Dr KH Sahal Mahfudz sebagai rais am hasil Muktamar NU ke-32 di Makasar yang barusan usai.

Lanjutkan membaca NU Mazhab Revisionis

Menyoroti Isra’ Mi’raj; Sebuah Perspektif terhadap Aspek Tersirat dalam Isra’ Mi’raj

Oleh: Masbahur Roziqi

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu hari besar umat Islam di seluruh dunia. Hari besar ini diperingati untuk mengingat kembali perjalanan Rasulullah SAW dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Bila dijadikan beberapa fragmen, maka kata Isra’ Mi’raj ini dapat dibagi pada dua kata yaitu Isra’ dan Mi’raj. Isra’ berarti perjalanan Rasulullah dari masjidil Haram ke masjidil Aqsa, sedangkan Mi’raj berarti perjalanan Rasulullah dari masjidil Aqsa naik ke tiap langit sampai Sidratul Muntaha. Segala sesuatu memiliki hubungan sebab akibat, dalam hal ini peristiwa Isra’ Mi’raj memiliki latar belakang tersendiri. Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun kesedihan, sebuah masa ketika nabi SAW kehilangan dua orang yang menjadi pilar perjuangannya, orang yang dicintainya, dikasihi, sangat dihargai, bahkan melebihi rasa sayang pada diri beliau sendiri. Dua orang tersebut adalah Abu Thalib (paman Rasulullah SAW) dan Siti Khadijah (istri Rasulullah SAW), dua orang yang selalu mendukung dan membantu perjuangan Rasulullah SAW.

Lanjutkan membaca Menyoroti Isra’ Mi’raj; Sebuah Perspektif terhadap Aspek Tersirat dalam Isra’ Mi’raj

Membincang Multi-Tafsir Ahlussunnah wal Jamaah-nya NU

Oleh: Abdullah Ubaid Matraji

Kalau warga NU ditanya, “Islam model apakah yang anda ikuti?” Jawabnya pasti kompak, “Ya tentu, Islam sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah.” Lain halnya jika mereka disodorkan pertanyaan, “Ahlussunnah wal Jamaah itu apa?” Nahdliyyin yang satu dengan yang lain bisa dipastikan punya jawaban yang tidak satu. Memang, dekade belakangan ini, term Ahlussunnah wal Jamaah, yang disingkat Aswaja, di lingkungan NU tidak lagi berlaku tafsir tunggal, tapi berkembang sesuai dengan komunitas warganya.

Nahdliyyin di lingkungan pesantren, dalam memaknai Aswaja, tidak menutup kemungkinan berbeda dengan kalangan akademisi NU, atau kiai-kiai yang aktif di struktural ataupun kultural, dan juga anak-anak muda yang dilahirkan dari “rahim” NU.

Lanjutkan membaca Membincang Multi-Tafsir Ahlussunnah wal Jamaah-nya NU

Memaknai Spirit Hijrah Menuju Indonesia Bangkit !

Oleh: Rahmat Tuanku Sulaiman

Selamat Tahun Baru 1429 Hijriyah. Tidak terasa waktu terus bergulir, tanpa ada yang bisa menghentikan. Sekarang sudah masuk tahun baru 1429 Hijriyah. Memperingati tahun baru hijrah pada tanggal 1 Muharam tidak sekedar berakhirnya tahun yang lama dan mulainya tahun yang baru, tetapi perlu perenungan dan mengikat apa yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya Umar bin Khaththab menjadikan momentum hijrah menjadi awal dari tahun Islam, beliau sadar betul bahwa hijrah adalah satu peristiwa yang besar, dan tidak hanya bagi sejarah Islam tetapi bahkan bagi sejarah manusia secara keseluruhan.

Lanjutkan membaca Memaknai Spirit Hijrah Menuju Indonesia Bangkit !

Transformasi Sosial Hijrah

Oleh: Masykurudin Hafidz*

Hijrah adalah momen penting bagi umat Islam. Peristiwa ini selalu diingat sepanjang sejarah, karena menjadi pertanda perubahan waktu. Penetapan hijrah Rasulullah Muhammad ke Madinah sebagai pertanda permulaan kalender Islam menunjukkan bahwa agama ini lebih bertumpu pada gagasan dan pola gerakan daripada otoritas personal.

Perpindahan Rasulullah dari Mekah ke Madinah semata-mata untuk menegakkan kebenaran. Tindakan demi Tuhan ini dijalankan dengan melepaskan diri dari apa yang disenangi dan dikasihi. Keberanian memotong jalan hidup semata-mata untuk perjuangan ke depan, walau membutuhkan pengorbanan yang tidak ringan.

Lanjutkan membaca Transformasi Sosial Hijrah

Fikih Sosial Ormas Islam

Oleh: Azyumardi Azra

Tema-tema pembangunan, seperti pemberantasan kemiskinan seiring penciptaan good governance kelihatannya menemukan momentum baru. Sekarang kian disadari, penguatan demokrasi, HAM, dan kesetaraan perempuan, misalnya, sulit dicapai dengan baik tanpa melalui pembangunan dalam berbagai aspeknya.

Banyak kalangan kembali menyadari ini, sejak pemerintah dan pendonor melangkah ke arah ini. Tak kurang Maarif Institute for Humanity bekerja sama dengan The Asia Foundation menyelenggarakan konferensi bertajuk “Ormas Islam, Good Governance dan Pemberantasan Kemiskinan”, di Jakarta, Agustus lalu.

Lanjutkan membaca Fikih Sosial Ormas Islam