Hasil Lengkap Rekapitulasi Suara Pilpres di 23 Provinsi

 

JAKARTA Senin 20 juli 2014– vsBeberapa Komisi Pemilihan Umum (KPU) tingkat provinsi telah mengumumkan penetapan hasil rapat pleno rekapitulasi penghitungan perolehan suara Pilpres 2014 hingga hari kedua pada Ahad (20/7) dinihari WIB.

Dari 34 provinsi, sebanyak 23 provinsi telah mengumumkan penetapan hasil rapat pleno tersebut.

Berikut rinciannya berdasarkan hasil laporan kantor berita Antara tentang hasil rapat pleno rekapitulasi penghitungan perolehan suara Pilpres 2014 dari masing-masing provinsi.


SUMATERA

01 Aceh (belum)    

02 Sumatera Utara

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 2.831.514 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 3.494.835 suara.

03 Sumatera Barat

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 1.797.505 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 539.308 suara.

04 Riau

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 1.349.338 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 1.342.817 suara.

05 Jambi

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 871.316 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 897.787 suara.

06 Sumatera Selatan

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 2.132.163 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 2.027.049 suara.

07 Bengkulu

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 433.173 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 523.669 suara.

08 Lampung

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 2.033.924 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 2.299.889 suara.

09 Bangka Belitung

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 200.706 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 412.359 suara.

10 Kepulauan Riau (belum)


JAWA

 

11. Banten

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 3.192.671 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 2.398.631 suara.

12. Jakarta

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 2.528.064 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 2.859.894 suara.

13. Jawa Barat

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 14.167.381 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 9.530.315 suara.

14. Jawa Tengah (belum)

15. Yogyakarta

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 977.342 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 1.234.249 suara.

16. Jawa Timur

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 10.277.088 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 11.669.313 suara.


KALIMANTAN


17. Kalimantan Barat

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 1.032.354 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 1.573.046 suara.

18. Kalimantan Tengah (belum)

19. Kalimantan Selatan

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 941.809 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 939.748 suara.

20. Kalimantan Timur (belum)               

21. Kalimantan Utara (belum)

 


SUNDA KECIL


22. Bali

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 614.341 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 1.535.110 suara. (unggul)

23. Nusa Tenggara Barat

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 1.844.178 suara. (unggul)

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 701.238 suara.

24. Nusa Tenggara Timur

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 769.391 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 1.488.076 suara.

 


 SULAWESI


25. Sulawesi Utara (belum)

26. Gorontalo

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 378.735 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 221.497 suara.

27. Sulawesi Tengah      

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 631.859 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 768.091 suara.

28.  Sulawesi Tenggara

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 511.134 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 622.217 suara.

29. Sulawesi Barat

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 165.494 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 456.021 suara.

30. Sulawesi Selatan (belum)

 


 MALUKU


31. Maluku (belum)               

32. Maluku Utara (belum)

 


 PAPUA


33. Papua               

Prabowo Subianto-Hatta Rajasa: 769.132 suara.

Joko Widodo-Jusuf Kalla: 2.026.735 suara.

34. Papua Barat (belum)

Degradasi Nilai Pergerakan Kaum Intelegensia (Bagian II)

Arah pergerakan mahasiswa dewasa ini sudah mengalami kehilangan visi dan misi. Ibarat kata, gerakan mahasiswa bagaikan menara kardus. Bertubuh kekar namun keropos di dalam. Berkuantitas besar namun minim dalam kualitas. Mahasiswa yang merupakan tonggak awal dari pergerakan harus paham akan fungsi sosialnya yaitu sebagai agent of change ( agen perubahan ) dan agent of social control ( agen pengawas sosial ). kekuatan moralnya dalam bergerak karena pada intinya apa yang dibuat adalah semata – mata berlandaskan pada gerakan moral yang menjadi idealismenya dalam bergerak. Kedua adalah kekuatan intelektualitasnya, melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki dari bangku perkuliahan yang senantiasa diaplikasikan untuk gerakan moral dan pengabdian kepada masyarakat, karena ilmu merupakan amanah dan tanggung jawab yang harus diamalkan. Ketiga adalah mahasiswa sebagai seorang pemuda memiliki semangat yang merupakan karakter alami yang pasti dimiliki oleh setiap pemuda secara biologis.

“Mahasiswa mesti mempertegas diri untuk memposisikan pemikirannya oposisi biner terhadap kebatilan, menembus dan melumat batas-batas tirani. Mahasiswa yang dengan kecerdasannya mesti mampu mengabstraksikan fenomena sosial politik ke dalam bahasa intelektual, ilmiah, religius dan merakyat.” (Bumi Merah Hitam Caliphate)

           

            Kutipan diatas seolah mengajak mahasiswa untuk bergerak dari kebatilan yang ada dengan berlandaskan kecerdasan intelektual dan moralnya. Hal serupa sejalan dengan 3 hal yang sudah disebutkan sebelumnya, dimana mahasiswa memiliki fungsi sosial sebagai agen perubahan dan pengawas sosial.       

            Kekuatan moral mahasiswa yakni mahasiswa yang penuh idealisme dan berusaha mengkoreksi berbagai penyimpangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara moralitas mahasiswa harus mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka mempunyai latar belakang sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati. Mahasiswa juga dituntut untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya dan terbuka kepada siapa saja. Hal itu semata-mata karena mereka adalah kader-kader calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang, yang memegang kendali bangsa di masa depan. Oleh karena itu mereka berhak untuk melakukan pengawasan terhadap pemerintah dan memberikan kritik atas setiap kebijakan yang dibuatnya. Sikap kritis itu merupakan wujud kepedulian mereka terhadap bangsa dan negaranya yang dilakukan dengan ikhlas dan dari hati nurani mereka, bukan atas keterpaksaan maupun intimidasi dari pihak luar. Segala sesuatu yang mereka perjuangkan adalah sesuatu yang mereka yakini adalah baik untuk kehidupan mereka di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Hal tersebut berlaku dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

            Intelektual sejati akan bertindak secara rasional, lebih mementingkan akal daripada perasaan, obyektif, realistis, mempunyai integrated pesonality hingga sanggup menyatakan benar dan salah tanpa pandang bulu. Intelektual itu sudah seharusnya bergerak maju secara progresif dan kritis. Tidak terikat oleh apapun yang bisa membajak kekhasan intelektual yang kritis. Progresifitas dan  kritisme harus menjadi nilai fundamental yang akan menjadi megaphone keadilan bagi kemasalahatan manusia. Problem terkini pada dunia intelektualisme adalah menghambanya kaum intelegensia terhadap penguasa. Fungsi-fungsi intelektualitasnya digerakkan dalam rangka melanggengkan kekuasaan dan otoritarianisme kaum elit dan penguasa yang menjadi nilai abnormalitas tersendiri. Intelektualisme adalah perlambang kekuatan sebagai manifestasi keberagamaan yang memiliki visi pencerahan, penyadaran dan pencerdasan, bermuara kepada kebebasan dan kemerdekaan sebagai “manusia sadar” yang berperan untuk membebaskan manusia dari penjara kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, gembok pragmatisme, serta perbudakan globalisme yang menghabisi nilai-nilai idealis kemanusiaan. Oleh karena itu untuk dapat menjalani peran penting mahasiswa yang akan mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan kemanusiaan kearah yang lebih baik maka perlu adanya intelektualisme dan wawasan yang luas.

            Kekuatan moral dan intelektual tidak akan bisa berjalan tanpa rasa semangat yang tinggi, semangat yang  melingkupi kekuatan otak dan fisik yang bisa dikatakan dalam titik maksimal, lalu kreatifitas, responsifitas, serta keaktifannya dalam membuat inovasi yang sesuai dengan bidang keilmuannya. Oleh karena itu, di tengah karut marut persoalan kebangsaan ini, dibutuhkan peran dan kepeloporan mahasiswa sebagai kekuatan moral, intelektual, dan semangat juang sebagai fasilitator kepentingan rakyat sebagai refleksi kembalinya keberadaan mahasiswa dan menentukan posisi yang jelas sebagai basis kekuatan bangsa yang pro rakyat dan anti kepentingan elit.. Tidak bisa dibayangkan bagaimana masa depan Indonesia jika mahasiswanya terlena dan apatis dengan kondisi negara yang hampir lumpuh karena praktik kekuasaan dan politik praktis. Apabila sejak dini sudah tertanam komitmen dan konsistensi sikap untuk selalu membela kepentingan rakyat, kelak jika sudah waktunya menjadi bagian pemimpin Indonesia, mahasiswa akan selalu mengutamakan kepentingan rakyat. Selebihnya siapapun, apapun dan bagaimanapun mahasiswanya, dia punya tanggung jawab yang besar untuk memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa yang berkeadilan sesuai dengan yang diamanahkan undang – undang dan ideologi negara.

Tangerang, 22 Desember 2012

Oleh : Islmail Adi Nugroho

- Redaksi

Degradasi Nilai Pergerakan kaum Intelegensia (Bagian I)

Tonggak sejarah pergerakan pemuda Indonesia salah satunya adalah pendirian Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 yang sekarang kita kenal dengan Hari Kebangkitan Nasional. Namun momen penting ini tidaklah berdiri sendiri, masih ada Sumpah Pemuda yang selalu di peringati setiap tanggal 28 Oktober yang merupakan hasil dari serangkaian perjuangan-perjuangan pemuda Indonesia sejak dulu dalam usaha membebaskan diri dari penjajahan.

            Mahasiswa yang termasuk dalam golongan pemuda merupakan salah satu pemeran penting dalam setiap episode panjang perjalanan bangsa ini. Hal ini beralasan mengingat bagaimana pentingnya peran mahasiswa yang selalu menjadi aktor perubahan dalam setiap momen-momen bersejarah di Indonesia. Sejarah telah banyak mencatat, dari mulai munculnya Kebangkitan Nasional hingga Tragedi 1998, mahasiswa selalu menjadi garda terdepan dalam momen-momen tersebut

            Seperti diketahui sudah beberapa kali mahasiswa menunjukan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan peradaban bangsa ini dari masa penjajahan Belanda hingga Masa orde baru, mahasiswa tidak pernah absen dalam catatan peristiwa penting tersebut.

            Mahasiswa memiliki 3 modal dasar yang membuat ia mampu disebut sebagai agent of change (agen perubahan) dan agent of social control (agen pengawas sosial) sebagai fungsinya yaitu kekuatan moralnya dalam bergerak karena pada intinya apa yang dibuat adalah semata-mata berlandaskan pada gerakan moral yang menjadi idealismenya dalam bergerak. Kedua adalah kekuatan intelektualitasnya, melalui ilmu pengetahuan yang dimiliki dari bangku perkuliahan yang senantiasa diaplikasikan untuk gerakan moral dan pengabdian kepada masyarakat, karena ilmu merupakan amanah dan tanggung jawab yang harus diamalkan. Ketiga adalah mahasiswa sebagai seorang pemuda memiliki semangat yang merupakan karakter alami yang pasti dimiliki oleh setiap pemuda secara biologis, dimana melingkupi kekuatan otak dan fisik yang bisa dikatakan dalam titik maksimal, lalu kreatifitas, responsifitas, serta keaktifannya dalam membuat inovasi yang sesuai dengan bidang keilmuannya.

            Ironisnya, mahasiswa saat ini tidak seperti yang sudah diteorikan diatas, mereka cenderung bermental pragmatis, apatis dan hedonis. Terkikisnya nilai pergerakan itu karena mereka cenderung cuek dan senang mencari jalan pintas (instan) serta enggan dalam berproses. Mereka saat ini lemah, kurang gigih, dan kehilangan identitasnya sebagai mahasiswa. Mereka terlalu diarahkan kedalam bidang akademis sehingga lupa akan fungsi sosialnya. Belum lagi jika harus dikaitkan dengan masalah lain seperti pergaulan bebas, kasus tawuran, pengguna narkoba, kasus terorisme, sampai kurangnya nilai jual dan daya saing hingga angka pengangguran yang cukup besar.

            Memang fakta yang ada dilapangan saat ini adalah seperti itu. Kritikan pedas memang  diperlukan untuk membuka fikiran dan memompa semangat mahasiswa saat ini untuk bangkit sehingga tidak melulu memikirkan dirinya sendiri, bahkan perutnya sendiri. Semestinya mahasiswa harus berani merombak watak budaya politik yang menjadikan kekuasaan dan uang sebagai tujuan utama. mahasiswa juga harus memperkuat komitmen penegakan hukum dan memfungsikan partai politik dan badan legislatif sebagai arena perjuangan kepentingan rakyat bukan kepentingan partai politik bahkan oknum tertentu, mahasiswa juga harus bisa menjadi agen debirokratisasi dari birokrasi yang belum akuntabel, profesional, dan tidak berorientasi pada pelayanan. Upaya itu juga harus dilandasi dan diimbangi dengan ilmu pengetahuan, sikap atau kepribadian yang baik, bukan dengan tindakan anarkis seperti yang telah terjadi belakangan ini.

            Saya mencoba mengambil kasus secara sempit adalah mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah. Mereka seakan telah dibutakan dari makna pergerakan secara sebenarnya, mereka selalu disibukan dengan kegiatan-kegiatan akademis tanpa diimbangi dengan fungsi mahasiswa secara luas. Mereka amat pasif menanggapi situasi lokal dan situasi nasional. Bahkan situasi kampuspun mereka respon dengan dingin. Kaum Intelegensia di lingkungan kampus telah dikebiri dengan di arahkan,  di pos-pos kan , dan digiring paradigmanya bahwa kuliah itu semata-mata hanya belajar, mendapat nilai bagus, dan lulus dengan predikat “cumloude”. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas ( BEMF ) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi ( HMPS ) menurut saya juga belum menjalankan peran dan fungsinya dengan maksimal. Kegiatan-kegiatan mereka lebih cenderung terhadap kegiatan yang berbau akademis. Mereka tidak bisa menampung aspirasi dan mengakomodir mahasiswa lainnya, bahkan lebih cenderung responsive kepada golongan-golongan dan organisasi – organisasi tertentu saja. Lebih ironis lagi jika kita memandang ke ranah Universitas, dimana  Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU) yang menjadi wadah aspirasi dan demokrasi mahasiswa se-Universitas sampai artikel ini diterbitkan belum juga ada atau lebih tepatnya belum dilaksanakan pemilihan. Padahal kepengurusan BEMF dan HMPS sudah berjalan hampir setengah dari periode kepemimpinan. 

Hal tersebut mengindikasikan bahwa wadah-wadah pergerakan yang bisa mengakomodir aspirasi mahasiswa telah “kerdil dan dikerdilkan” oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan pergerakan-pergerakan mahasiswa itu muncul kembali. Terlepas dari itu semua, seharusnya mahasiswa sadar, paham betul, dan mempunyai inisiasi untuk bergerak tanpa mengenal siapa dia, dari manakah alamaternya, ataupun apakah background organisasinya. Sesuatu yang mungkin saja bisa terjadi apabila mahasiswa mau melakukannya dari hati, bukan atas emosional organisasi dan golongan tertentu, apalagi bergerak berdasarkan uang, karena dipundak mahasiswa tonggak peradaban bangsa Indonesia ditentukan.

Tangerang, 14 November 2012

Oleh :   Ismail Adi Nugraha 

-Redaksi

5 cm

Film yang di adopsi dari Novel karya Donny Dirgantoro bercerita tentang persahabat 5 orang anak manusia yaitu Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta. Dimana mereka memiliki obsesi dan impian masing-masing. 

Image

Arial adalah sosok yang paling ganteng diantara mereka, berbadan tinggi besar. Arial selalu tampak rapi dan sporty. Riani adalah sosok wanita berkacamata, cantik, dan cerdas. Ia mempunyai cita-cita bekerja di salah satu stasiun TV. Zafran seorang picisan yang berbadan kurus, anak band, orang yang apa adanya dan kocak. Ian memiliki postur tubuh yang tidak ideal, penggila bola, dan penggemar Happy Salma. Dan yang terakhir adalah Genta yang selalu dianggap sebagai “the leader” oleh teman-temannya, berbadan agak besar dengan rambut agak lurus berjambul, berkacamata, aktivis kampus, dan teman yang easy going.

Lima sahabat ini telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Suatu ketika mereka jenuh akan aktivitas yang selalu mereka lakukan bersama. Terbesit ide untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan. Ide tersebut pun disepakati. Selama tiga bulan berpisah itulah terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya. Pertemuan setelah tiga bulan yang penuh dengan rasa kangen akhirnya terjadi dan dirayakan dengan sebuah perjalanan. Dalam perjalanan tersebut mereka menemukan arti manusia sesungguhnya.

Perubahannya itu mulai dari pendidikan, karir, idealisme, dan tentunya love life. Semuanya terkuak dalam sebuah perjalanan ‘reuni’ mereka mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Dan di sanalah cerita bergulir, bukan hanya seonggok daging yang dapat berbicara, berjalan, dan punya nama. Mereka pun pada akhirnya dapat menggapai cita-cita yang mereka impikan sejak dulu. 

Beberapa pesan yang dapat diambil dari film ini yaitu:

1. Kita harus menanamkan satu keyakinan pada diri kita bahwa tidak ada yang tidak bisa di dunia ini kecuali keyakinan yang menganggap bahwa kita tidak dapat melakukan hal tersebut

2. Jangan menganggap kritik itu merupakan suatu kemunduran atau serangan. Tapi yang perlu kita ketahui bahwa kritik itu adalah pengorbanan dari seseorang yang mungkin telah mengorbankan rasa nggak enaknya sama kita, entah sebagai teman atau rekan kerja. Tapi sebenarnya hal itu semata-mata untuk membuat diri kita lebih baik.

3. Sebaik-baik manusia dalam hidupnya adalah apabila ia menjadi manusia yang bisa memberi manfaat bagi orang lain bukan orang yang mementingkan diri sendiri dan terlalu mencintai dirinya sendiri

4. Janganlah menjadi manusia yang diatur oleh keadaan dan merasa kalah sama keadaan. Tapi, jadilah manusia yang beranggapan bahwa dirinyalah yang harus mengatur keadaan, bukan dirinya yang diatur oleh keadaan yang harus selalu jadi kalimat aktif selalu pakai awalan me- bukan kalimat pasif yang selalu pake awalan di-. 

5. Jadikan mimpi kita menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kita, biar dia nggak pernah lepas dari mata kita.Dan kita bawa mimpi dan keyakinan kita itu setiap hari, kita lihat setiap hari, dan percaya bahwa kita bisa. Apa pun hambatannya, bilang sama diri kita sendiri, kalau kita percaya sama keinginan itu dan kita nggak bisa nyerah. Bahwa kita akan berdiri lagi setiap kita jatuh, bahwa kita akan mengerjarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri.

Dan yang kita butuhkan Cuma lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa.

6. Tuhan memberi kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih. Selanjutnya tinggal masalah pilihan. Itulah mengapa Tuhan sayang sama makhluknya. Ia menjaga tingkat ketidakpastian-Nya, ketidakpastian alam semesta ini dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian, supaya kita terus belajar tentang apa saja hingga akhirnya kita bermuara pada-Nya. Sesungguhnya manusia memang diberi kebebasan memilih. Memilih dipersimpangan-persimpangan kecil atau besar dalam sebuah Big Master Plan yang telah diberikan Tuhan semenjak kita lahir. Jadi semuanya ke masalah pilihan.

7. Terimalah dengan apadanya kekurangan dan kelebihan yang dimiliki sahabat kita. Tidak semua orang memiliki nilai plus seutuhnya. Nilai plus tersebut pasti akan selalu didampingi dengan nilai minus. Tinggal bagaimana cara kita sebagai teman untuk menutupi kelebihan dan kekurangan teman kita.

”…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa…percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu.”

Film ini berlatarkan tempat yang mendeskripsikan bagaimana keindahan alam Indonesia sesungguhnya. Decak kagum dan puji syukurlah yang mendarat di bibir para penonton ketika melihat bagaimana Indonesia yang sesungguhnya dan apa yang Indonesia punya, ditambah lagi dengan cerita yang menggoyahkan hati. Recommended film banget .

Oleh : Natasha Anjani Nicola Dekock.

MAPABA Sebagai Langkah Awal Pergerakan

Melalui 1 langkah pergerakan yang didasari tawazun, tasamuh, tawasut dan ta’adul  mungkin sudah sepatutnya mahasiswa berfikir secara idealis yang dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya serta mengenyampingkan pemikiran pragmatis yang lebih mengedepankan egoism dan kebutuhan pribadi semata dan menjadi ribuan langkah inspirasi untuk manusia lainnya.

Image

 

Keberadaan organisasi mahasiswa yang diharapkan dapat menjadi wadah bagi pembentukan karakteristik mahasiswa serta melahirkan organisatoris-organisatoris dan calon pemimpin berkarakter muslim dimasa mendatang semakin dipandang sebelah mata oleh mahasiswa saat ini. Dengan menilai pribadi didalamnya dan menyalahkan organisasinya. Padahal organisasi merupakan sebuah medium yang sangat vital dan signifikan untuk mengantarkan pada pelatihan dan pembiasaan membangun sebuah ide maupun gagasan berkarakter muslim yang nantinya akan tersiarkan maupun terwacanakan.

PMII KOMFASYAHUM yang merupakan satuan komunitas ideas dalam pembentukan karakter (character building) tinggal sejauh mana mau belajar, berproses dan totalitas dalam mengambil hikmah dalam organisasi. Untuk itu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum (KOMFAKSYAHUM) cabang ciputat telah mengadakan MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) yang merupakan jenjang pengkaderan pertama dalam priode kepengurusan komisariat yang baru, pada tanggal 3-4 November 2012 di villa baladegana, bogor, dengan tema MAPABA Ultra: Mengembangkan ideology keilmuan ahlussunnah wal jamaah memalui jalan pergerakan. Dengan beberapa materi utama didalamnya seperti kePMIIan, Ahlussunnah wal jamaah, Nilai Dasar Pergerakan (NDP), antropologi kampus, simulasi sidang dan aksi dll.

 “MAPABA mempersiapkan kader pergerakan menjadi agen  perubahan yang peka terhadap kondisi social kampus, berbakti pada masyarakat dan negara, minimal untuk diri sendiri serta lingkungan sekitarnya dengan ahlussunnah wal jamaah sebagai pijakan pergerakannya.” ujar Gilang Henris Mentri Hukum dan HAM UIN, Periode 2009 – Sekarang.

MAPABA menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal dan menjadi keluarga baru pergerakan PMII KOMFAKSYAHUM. Ketua acara MAPABA Dimas Lubnan dari Asuransi Syariah mengemukakan harapannya “Harapan saya sahabat-sahabati yang baru bergabung teruslah aktif, ikatalah silaturahim yang kuat dengan sahabat seangkatan. Menjadi kader yang kompeten, ulet, dan paham menyalurkan minat dan bakat diri”.

Dalam PMII Jenjang pengkaderan ke dua setelah mapaba adalah ialah PKD (Pelatihan Kader Dasar) yang bertujuan mengarahkan cara berfikir kader dan peranan kewajiban kader yang lebih seperti apa yang bisa kader berikan untuk PMII. Dan PKL (Pelatihan Kader Lanjutan) yang merupakan jenjang pengkaderan tertinggi  yang bertujuan memperbarui, memperdalam, dan meningktkan kemampuan kader, biasanya jenjang ini sudah tidak diragukan lagi kapabilitas sebagai kader PMII tinggal menunggu apa yang bisa diberikan kader untuk Indonesia.

Redaksi.

: Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta – Cabang Ciputat :

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.066 pengikut lainnya.