Arsip Kategori: :: BARISAN ARTIKEL

Krisis Pemikiran dan Keberanian

560-dc3be82a485df6be3cf0c41f78db1158

 

Pemikiran kita saat ini, didominasi beberapa isu politik dan kebijakan hukum yang rancu. Masalah mayoritas yang tunggal yang diasosiasikannya dengan beberapa partai besar yang mengaburkan kenyataan tingginya kadar perpecahan dalam negara ini. Perpecahan tersebut diperkirakan hanya sebagai sebuah mata rantai dari proses demokratisasi. Padalah yang terjadi adalah perbenturan kepentingan yang tidak menyangkut kepentingan orang banyak. Katakanlah terjadi sebuah dinamika dalam kubu Koalisi Merah Putih yang kian hari bermunculan partai yang keluar.

Juga, isyu mengenai “Pengangguran dan Kemiskinan”. Tidak jelas yang dimaksudkan, Meningkatkan lapangan pekerjaan atau meningkatkan taraf hidup orang miskin. Ketidak jelasan yang lahir dari kerancuan definisi akan penyelesaian masalah tersebut.

Era Modernisasi dan era globalisasi juga menjadi tanda belantara kerancuan istillah yang semakin mencekam kita. Word globalisasi dan modernisasi sebenarnya melekat pada tahapan yang sedang berjalan, dan tidak mengacu pada ruang dan waktu manapun. Sebaliknya , pemakaian ruang wakyu lebih banyak untuk produk yang dihasilakan proses itu sendiri. Dengan demikian , seharusnya kita berbicara tentang globalisasi dan demokratisasi, yang menuju pada era modernitas kehidupan.

Tidak heran jika kerancuan berpikir menjadi sangan luas, dan dengan kerancuan itu proses berfikir menjadi stagna. Kerja berfikir tidak lagi ditekankan untuk mencari sebuah gagasan –gagasan baru yang akan memperluas jangkauan pandangan kita. Pembicaraan kita terhenti pada klasifikasi masalah-  masalah bagaimana harus berpikir, bukannya membahas yang sebenarnya kita pikirkan.

Bung karno menjadi sosok teladan bagi pemuda- pemuda bangsa saat ini. Beliau tokoh sekalius Founder Father yang tegas, berani dan tentunya cerdas. Berbeda sekali ketika kita mengamati kehidupan masa lampau yang penuh dengan sejarah, seperti halnya ketika kita digentarkan oleh perang dunia kedua dimana indonesia menjadi negara yang berada diteritorial yang strategis untuk menjadi markas kedua belah pihak yang melakukan peperangan.

Namun, negara ini begitu hebat dan begitu berani dan bijak dalam memutuskan sebuah keputusan. Dimana ungkapan bungkarno bahwa kita tidak memihak kepada blok barat dan blok timur. Itu merupakan sebuah keputusan yang sangat berani, kita lihat hampir semua negara yang ada di dunia ini pastinya akan memihak kepada dua blok tersebut. Contohnya inggris memihak kepada blok barat, ataupun jepang yang memihak kepada blok timur, tapi melihat keputusan bung karno menunjukan bahwa kita dala menegakan kebaikan dan kebenaran harus berani.

 

 

Oleh: Hilman Rifki (Kader PMII PMH)

Iklan

Memaknai Kembali Nasionalisme dan Patriotisme

Sebelum mendiskusikan terkait nasionalisme dan patriotisme, perlu dipahami terlebih dahulu tentang apa yang melatarbelakangi perlunya sifat dari dua paham diatas.

Bangsa adalah suatu hal yang memunculkan sifat nasionalis dan patriotis, jadi perlu kiranya untuk mengetahui apa arti dari sebuah bangsa.

Bangsa adalah wilayah komunitas dari tanah kelahiran. Seseorang dilahirkan kedalam suatu bangsa. Signifikansi yang dicirikan pada fakta biologis kelahiran berkembang ke dalam sejarah, struktur territorial dari komunitas kebudayaan atas bangsa adalah mengapa bangsa merupakan salah satu di antara sejumlah bentuk kekerabatan. Ia berbeda dari bentuk kekerabatan lain seperti keluarga karena sentralitas territorial. Ia juga berbeda dari komunitas kewilayahan lain seperti suku, negara kota, atau berbagai ‘kelompok etnis’ lain, tidak sekedar karena keluasan wilayah yang lebih besar, namun juga karena budaya yang relative seragam, menyediakan stabilitas yang berkelanjutan seiring dengan waktu.[1]

Definisi bangsa diatas tidak bisa dipahami dengan sekilas saja, perlu pemahaman yang lebih mendalam tentang pengertian dari bangsa yang ditawarkan oleh Steven Grosby.

Ada tiga komponen kenapa suatu kumpulan masyarakat dinamakan bangsa. Pertama, Waktu, dalam pembentukan sebuah bangsa dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena kesadaran kolektif yang dibangun membutuhkan waktu yang panjang dan banyak melewati kejadian-kejadian yang nantinya akan menumbuhkan kesadaran bersama. Seperti adanya perang melawan Belanda, Sumpah pemuda dan lainnya merupakan sebuah rangkaian kejadian yang secara perlahan-lahan menumbuhkan semangat senasib seperjuangan. Komponen waktu ini –ketika suatu pemahaman masa lalu membentuk bagian dari masa kini- merupakan karakteristik bangsa dan disebut sebagai ‘kedalaman tentang waktu’. Kedua, Ingatan, banyaknya rangkaian kejadian yang dilalui bersama, semakin membentuk rasa kebersamaan antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga ingatan-ingatan akan kejadian masa lalu membentuk sebuah relasi. Selain itu, kesamaan bahasa karena terbentuk oleh adanya ingatan terhadap apa yang didapatnya memberikan pemahaman kepada dirinya mengenai perbedaan dengan kelompok lain yang berbicara dengan bahasa berbeda. Maka, bangsa adalah hubungan sosial dari kesadaran diri kolektif. Dan Ketiga, wilayah, tindakan mencari dan menempatkan suatu klaim ke masa lalu beserta lokasinya menciptakan keberlanjutan antara masa lalu itu dan lokasinya dengan masa kini beserta lokasinya. Keberlanjutan ini dipandang sebagai pembenaran tatanan masa kini karena ia dipahami sebagai dengan semestinya telah mengandung masa lalu. Seseorang dengan cara demikian mengakui dirinya merupakan bagian dari wilayah tersebut yang memiliki masa lalunya, pada situasi seperti ini , keberadaan suatu masyarakat yang dibentuk oleh kewilayahan dan diyakini akan bertahan seiring dengan waktu; dan inilah apa yang dimaksudkan dengan istilah bangsa.

Ringkasnya, bangsa adalah relasi teritorial dari kesadaran diri kolektif terhadap durasi aktual maupun imajinasi.

Nasionalisme dan Patriotisme

Dari adanya pemahaman tentang kesadaran kolektif kedepannya akan memunculkan semangat Nasionalis dan Patriotis.

Dalam arti sederhana, nasionalisme adalah sikap mental dan tingkah laku individu atau masyarakat yang menunjukkan adanya loyalitas atau pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya.[2]

Dalam mendefinisikan perkataan “Nasionalisme”, Stanley Benn menyebutkan, paling tidak, lima hal: (1) semangat ketaatan kepada suatu bangsa (semacam Patriotisme); (2) dalam aplikasinya kepada politik, “nasionalisme” menunjuk kepada kecondongan untuk mengutamakan kepentingan bangsa sendiri, khususnya jika kepentingan bangsa sendiri itu berlawanan dengan kepentingan bangsa lain; (3) sikap yang melihat amat pentingnya penonjolan cirri khusus suatu bangsa, dan, karena itu; (4) doktrin yang memandang perlunya kebudayaan bangsa untuk dipertahankan; (5) nasionalisme adalah suatu teori politik, atau teori antropologi, yang menekankan bahwa umat manusia, secara alami, terbagi-bagi menjadi bangsa dan bahwa ada kriteria yang jelas untuk mengenali suatu bangsa beserta anggota bangsanya.[3]

Namun yang harus dipahami adalah Nasionalisme adalah suatu bentuk Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) tetapi kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain. Jadi Nasionalisme dapat juga diartikan:

  1. Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme.
  2. Sedang dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.

Selanjutnya, pengembangan daripada nasionalisme adalah patriotisme. Patriotisme adalah cinta yang dimiliki oleh seseorang terhadap bangsanya.[4]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian dari Patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya; semangat cinta tanah air.

Reakluatisasi Nasionalisme dan Patriotisme dalam konteks ke-Indonesiaan

Semangat keagamaan yang tidak diimbangi dengan semangat kebangsaan akan memunculkan paham-paham radikal dan ekstrim. Padahal, adanya bangsa Indonesia bukan atas jasa satu agama tertentu saja. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan nilai toleransi harus betul-betul ditekankan kepada benak kita masing-masing.

Selain itu, Apabila kita melihat kenyataan sekarang, khususnya generasi muda, sangat terlihat jelas pudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme. Sebagian besar generasi muda seperti malu dengan budayanya sendiri dan bangga dengan budaya bangsa lain. Sangat sulit kita menemukan anak-anak muda yang bangga menunjukan identitasnya.

Pudarnya semangat ini bila penulis lihat, karena ketidaksiapan kita mengahadapi era globalisasi dan keterbukaan informasi. Apabila terus dibiarkan, suatu saat nanti, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang gagal identitas. Bagaimana mungkin akan tumbuh sifat nasionalis dan patriotis apabila tidak mengenal bangsanya sendiri?

Menjadi tugas kita bersama untuk segera mengatasi hal tersebut sebelum menjadi lebih parah. Karena apabila kita hanya berdiam, sama saja kita menghianati cita-cita pendiri bangsa ini.

[1] Steven Grosby, Nationalism, ( Terjemahan Teguh Wahyu), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, Hal 9

[2] Azyumardi Azra, Demokrasi, HAM, dan Masyrakat Madani. hal 32

[3] Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan dan KeIndonesiaan, Bandung. MIZAN, 2013. Hal 53

[4] Steven Grosby, Nationalism, ( Terjemahan Teguh Wahyu), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, Hal 21

Penulis: Ade (Hukum Keluarga)

Peran dan Posisi Intelektual di Masyarakat

Membicarakan peran dan posisi intelektual dalam masyarakat selalu menuai kearah pertanyaan siapakah intelektual. Membicarakan intelektual teringat atas ungkapan dari Dhaniel Kidae, “ bagaikan menggoreskan garis di atas air yang  mengalir.” Sangat sulit untuk diartikan ungkapan dari dhaniel dharma kidae. Namun, Muammar Kadafi menuturkan bahwa ungkapan ini yang membedakan antara intekektual dan non intektual.

Menurut Seymour Martin Lipset intelektual adalah yang menciptakan, menyebaluaskan, dan menjalankan kebudayaan,” Definisi ini berkaitan dengan suatu struktur dan fungsi sosial tertentu, berarti kita harus melihat peran dan posisi intelektual dalam masyarakat. Bicara mengenai peran dan posisi intelektual juga tidak bisa tidak dilepaskan dari kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan.

Sebuah pandangan mahasiswa indonesia  merujuk kepada kemerdekaan dan reformasi. Pada masa itu , muncul sebuah strata sosial yang disebut dengan istilah masyarakat madani. Starata ini terdiri dari lapis masyarakat yang lebih terdidik, dikirim ke pesantren,sekolah, dan perguruan tinggi dengan tujuan khusus untuk merubah negri ini.

Berkaitan dengan posisi inteltual dalam masyarakat , ada dua pendekatan yang muncul . Dua pendekatan tersebut melihat intelektual sebagai kelas dalam masyarakat, yakni:

Pertama, Pendekatan yang menempatkan intelektual sebagai kelas pada dirinya sendiri. Pendekatan ini meletakkan intelektual berposisi di atas angin. Pendekatan yang kerap disebut dengan benda-isme ini merujuk pada pandangan julien benda yang termuat dalam pengkhiatan kaum cendikiawan. Dia mengatakan bahwa terdapat anatomi antara kekuasaan dan kebenaran, dimana mencari kebenaran adalah pekerjaan kaum intelektual.

Kedua, pendekatan yang mengangap kaum intelektual merupakan bagian dari kelas itu sendiri. Pendekatan ini berakar dari pemikiran Antonio Gramsci. Gramsci menyatakan bahwa “ semua orang adalah intelektual , namun tidak semua orang mempunyai fungsi intektual dalam masyarakat.” Gramsci Membagi Beberapa Tigologi intelektual:

  1. Intelektual Tradisional, yakni intelektual yang menyebarkan ide dan berfungsu sebagai mediator antara massa rakyat dengan kelas atasnya.
  2. Intelektual organik, yakni kelompok intektual yang mempunyai badan penelitian dan studi yang berusaha memberi refleksi atas keadaan namun terbatas untuk kepentingan kelompoknya sendiri.
  3. Intelektual kritis, yakni intelektual yang mampu melepaskan diri dari hegemoni penguasa elite kuasa yang sedang memerintah dan mampu memberikan pendidikan alternatif untuk proses pemerdekaan.
  4. Intelektual universall, yakni tipe intelektual yang berusaha memperjuangkan pemanusiawian dan humanisme serta dihormatinya harkat manusia.

Sedangkan obsesi Gramsci sendiri adalah bagaimana massa rakyat atau siapa saja bisa menjadi intelektual partisipan, yakni intelektual yang ikut dalam suatu kelas tertindas dan berusaha bersama-sama dengan kelompok tersebut untuk melakukan perubahan atas realitas yang menindas mereka dengan seluruh aksi politis dn pendidikan penyadarannya.

 

Oleh/; Bang_Ainur (Kader PMII PMH)

Sumber :Arizal Mtahir dalam . Intelektual Kolektif Pierre Bourdie, dan Mutji Sutrisno, Antara budaya dan Masyarakat.

 

Degradasi Mahasiswa: Kental Memberikan Solusi

Kencan intelktual merupakan lembaga kajian PMII Komisariat Fakultas Syariah dan Hukum, sebut saja kental nama lembaga tersebut. Kental hadir sebagai wadah untuk anggota, dan kader PMII Komisarita Fakultas Syariah dan hukum untuk mengembangkan keilmuan yang fokul mengkaji persoalan situasi nasional dan persoalan lainnya.

Sebagai sebuah lembaga kajian tentunya kental mempunyai berbagai program yang akan menunjang kemampuan anggota, dan kader. Bulan lalu kental fokus mengkaji berbagai situasi nasional seperti densus tipikor dan kita menyatakan sikap menolak pembentukan densus tipikor.

Selain hal itu, kental mencoba berinovasi untuk menyesuaikan kebutuhan anggota, dan kader. PMII Komisariat Fakultas Syaraiah dan hukum untuk membuka ENGLISH CLASS. Di era globalisasi saat ini bahasa inggris sangat diperlukan, karena bahasa inggris sebagai bahasa international yang biasanya digunakan didalam dunia kerja dan pendidikan.

Dengan program tersebut diharapkan agar dapat bersaing didalam dunia pendidiakan dan kerja international. Karena kental mencoba untuk menanggapi sitausi mahasiswa UIN khususnya mahasiswa Fakultas Syariah dan hukum yang tertinggal prestasinya dalam bidang bahasa dengan Perguruan tinggi lain, seperti UI,IPB,dan lainnya.

Selain English Class program yang akan diluncurkan oleh kental adalah kajian filsafat hukum. Sebagai mahasiswa hukun mengkaji dan menguasai filsafat hukum merupakan hal yang sangat wajib, karena filsafat hukum sebagai gerbang untuk dapat menguasai fan ilmu hukum lainnya.

 

Penulis: Bang_ainur

 

 

​Baca atau JANGAN BER-ORGANISASI YA DIK !

Hidup mahasiswa ..
Salam Pergerakan ..

Setiap orang mungkin berorganisasi dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada orang yang berorganisasi dengan tujuan ‘Jadi Tenar’, ada yang berorganisasi dengan tujuan ‘Jadi Kaya’, ada yang dengan tujuan ‘Cari teman, Cari pasangan, Cari peluang, ada yang dengan tujuan ‘Belajar mandiri dan percaya diri’, ada yang sekedar ikut-ikutan teman atau pasangannya tanpa tujuan yang pasti, yang lainnya dengan tujuan ‘Berbuat Baik’.
Terlepas dari berbagai tujuan yang berbeda di atas, kita semua yang telah bergabung dalam satu organisasi tertentu (dalam hal ini organisasi PMII), ketika visi & misi, tujuan serta ideologi daripada organisasi dihantarkan, maka boleh dikatakan kita memiliki satu harapan mulia yang sama pada umumnya terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Saya teringat dengan pembicara pada salah satu kegiatan kaderisasi wajib yang diadakan oleh organisasi yang sedang saya emban tanggung-jawabnya, bahwasanya pada sesaat sebelum pembicara tersebut mengakhiri materinya dia berkata “dewasa ini ramai orang berbuat baik untuk ketenaran dan nama baik (lebih menitik-beratkan pada apa yang bisa didapati daripada apa yang bisa diberikan)”.Kata-kata Pembicara ini patut direnungkan. Menurutku, melakukan pengenalan organisasi lewat media massa atau media elektronik lainnya yang bertujuan memberikan informasi kepada mahasiswa tentang keberadaan kegiatan organisasi yang dapat memberikan manfaat bagi mereka adalah sah-sah saja. Orang-orang dapat memberikan penilaian yang baik sepanjang kita bekerja dengan usaha disertakan niat yang tulus. Tetapi kacaunya, ada orang yang jika tidak ada namanya atau tidak ada nama organisasinya, maka ia segan membantu walaupun mungkin ia mampu dan punya waktu luang. Ia terikat dengan ekstrim dengan label seperti “Aku orang P, Dia orang M, Yang itu orang I, Yang lainnya I”. Membantu yang lain sampai melangkahi kewajiban dan tanggung jawab pihak lain yang bersifat internal tentunya tidak layak dan tidak disenangi. Tetapi, membantu secara eksternal misalnya dalam hal memberikan bentuk kepedulian sesama, ikut mengkonsepkan, berbagi info pada yang lain, mengajak yang lain berdana untuk kegiatan yang dilakukan, dan masih banyak contoh yang lainnya tentunya hal yang seperti itu tidak akan dicemooh apalagi terkena sangsi social justru mendekatkan emosional terhadap yang lain.

Di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Fakultas Syariah dan hukum masa bakti 2015 yang diketuai oleh Brilian Eltamin Alderi di akhir kepengurusannya saya kira merupakan contoh kongkrit terhadap cerminan bagaimana sesungguhnya organisasi berlaku dinamis dan harmonis.. Peluncuran Buku Perdana Komfaksyahum merupakan karya atas kekompakan organisasi yang merupakan representasi sinergisitas antara seluruh anggota dan kader.Publikasi Buku ini adalah karya yang luar biasa yang juga berkat dukungan serta teamwork teman-teman dari pengurus organisasi. Mengagumkan! Jika suatu acara tidak sesuai dikerjakan secara bersama-sama, hendaknya yang lain memberikan dukungan moral atau bantuan yang bersifat eksternal diatas. Sikap tidak bersimpati,saling beradu masalah pribadi, saling membandingkan atau saling menjatuhkan bukanlah sikap yang terpuji dan harus jauh-jauh dihapuskan dari organisasi.

Kemudian, kita juga pernah atau sering mendengar bahwa di “organisasi ini”, di“organisasi itu” terdapat perbuatan politis yang menghalalkan segala caraa terdapatnya penyelewengan penggunaan dana oleh siapa dan siapa. Alamak! Oknum-oknum nakal seperti itulah yang harus kita jadikan common enemy.Tetapi harus juga diakui, ada sebagian kecil orang yang berorganisasi dengan sepenuh hati, tulus, tanpa pamrih, tak banyak mengharap untuk dirinya sendiri.Abdurrahman Wahid yang akrab kita panggil “Gus Dur”, mantan Presiden Indonesia ke-5 adalah sesosok pemimpin yang ketulusannya telah mengilhami banyak orang, bahkan pinpinan-pimpinan di belahan dunia lain pun memujinya.

Sekarang mari kita teliti masalah-masalah yang kerap kali muncul dalam berorganisasi !.

Di hari biasa, kita mungkin telah menghabiskan banyak waktu untuk keluarga, untuk kewajiban utama, untuk hal-hal lain yang meletihkan dan menegangkan diri kita.Aktifitas organisasi diakhir pekan yang diharapkan dapat memberi nuansa baru dan kedamaian malah menjadi tambahan beban/dilema bagi kebanyakan dari kita.

Misalnya, ketika beberapa dari teamwork kita tidak merasa berkepentingan sehingga sering tidak hadir/tidak ikut dalam rapat atau tidak muncul saat pelaksanaan suatu kegiatan, kita merasa tidak puas, jengkel, maupun tertekan.Ada perasaan bahwa kita ini kurang dihargai tetapi kita juga tidak bisa terlalu memaksa.Itulah masalahnya.Hendaknya dipahami, sebagaimana masing-masing dari kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab sendiri-sendiri yang harus dipenuhi maka sedapatnya kita memenuhi kewajiban dan tanggung jawab kita.Jangan sampai berpikiran”toh aku tidak digaji kok, memangnya dipecat? Ah, peduli amat, lagi senang yah kerjain, lagi bad mood, biarin sana”. Pikiran seperti ini tidak tepat.Terkecuali bila ada urusan yang mengharuskannya non-aktif dari organisasi seperti meninggal dunia, sakit parah, sekolah/kerja/pindah luar kota/negri.

Selanjutnya, kita juga sering berkata bahwa perbedaan pendapat adalah wajar, tetapi tidak jarang kita belum mampu memahami, bila pendapat kita tidak didengar maka timbul sakit hati, tersinggung dan tidak muncul-muncul lagi di sekretariat atau dalam kegiatan organisasinya.

Sebut saja Q, sahabat pertama sekaligus inspiratorku, aku sering berbeda pendapat dan berselisih dengannya, sampai-sampai jengkel satu sama lain. Hahaha.Tapi bila kita menyimpan kritikan/kejengkelan itu berlarut-larut dalam hati, siapa yang rugi?Aku berterima-kasih pada dirinya yang telah banyak membantuku. Sungguh!

Jobdesk yang terlalu dibedakan juga merupakan hal yang membawa dilema, ketika kita berpikiran ia bekerja terlalu sedikit, semua semuanya harus saya yang kerja, atau yang itu bahkan tidak bekerja, pintarnya cuma ngomong saja. Ah menyebalkan. Hehehe (

Beberapa waktu yang baru lewat, saya pernah mengaduh dan mengeluh pada si Q bahwa mungkin saya telah merepotkan atau mungkin bahkan mengecewakan banyak orang dengan kekalahan dalam memimpin organisasi. Rasanya kecewa dengan diri sendiri yang tidak bisa menjadi seperti apa yang diharapkan. Q membalas “Bukankah kita adalah komfaksyahum yang artinya kita satu keluarga?Bukankah bagian dari keluarga semestinya saling membantu?Kita akan saling mendukung untuk menggerakan hal yang berikutnya lagi.”Benar-benar balasan yang mengharukan hati.

Dalam organisasi, kita belajar menghargai orang lain, menerima nasehat dan mendengarkan pendapat tetapi juga tegas dengan apa yang baik yang sesuai untuk dilakukan dengan apa yang tidak baik yang sepantasnya dihindari. Kita juga belajar mengasihi dan peduli sesama teman-teman seorganisasi. Apabila kita sanggup mengasihi teman-teman sendiri yang dekat dan yang kita kenal maka kasih ini dapat dikembangkan dengan lebih baik kepada mereka yang tidak kita kenal diluar sana. Sehingga kewajiban kaderisasiakan dengan sendirinya terpenuhi.

Kita juga menjadi teladan untuk mereka yang baru bergabung atau yang masih baru.Ketika mereka melihat manfaat-manfaat yang diperoleh, mereka terinspirasi dan ingin berkarya.Sahabatkuyang barusan pulang dari Pelatihan Kader Dasar di Depok kediaman salah satu senior hebatku, menyatakan kekaguman dan takjubnya, saking terinspirasinya, dia malah terharu dan menangis. Hahaha…..

Sebagai bagian dari organisasi, saya mendorong sahabat-sahabati dalam organisasi untuk berkembang dan maju. Tetapi ada saatnya kita patut mengasihi diri sendiri dengan merenungi hal-hal seperti berikut: “Bila dulunya saya adalah orang yang penyabar, sekarang cepat emosi/mudah tersinggung/banyak yang tidak kusenangi”, “Bila dulunya saya lebih berbahagia, sekarang banyak tekanan bathin”, “Bila dulunya bisa tidur nyenyak, sekarang banyak pikiran, kacau, gelisah dan khawatir”, “Bila dulunya jarang gosipin orang, sekarang siapapun digosipin, yang buruknya pula”, “Bila dulunya kuliahku terkendali, sekarang mengatur waktu untuk sekedar membuat makalah pun tak ada”, “Bila dulunya rajin ibadah, sekarang lima waktu saja ditinggalkan” 

Bila hal-hal diatas ada pada diri kita, maka kita patut bertanya pada diri kita, Apakah saya cocok menjadi bagian dari organisasi? Berorganisasi itu baik atau tidak, bermanfaat atau tidak adalah tergantung pada masing-masing orang yang menjalani. Organisasi itu adalah suatu sarana yang menjadi pilihan untuk mengembangkan diri.Ada orang yang cocok dan cepat maju dengan berorganisasi.Sebaliknya ada orang yang cocok dan cepat maju dengan pilihan lainnya yang juga terpuji.

Selamat berorganisasi !!!

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwaami Thariq

Wassalamua’alaikum Warahmatullahi Wabaraakaatuh

Kader Syariah

Luthfan Dimas Pratama S.Sy., S.H

Konstitusi Piagam Madinah

Piagam Madinah, juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) di tahun 622. Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut Ummah.

Lanjutkan membaca Konstitusi Piagam Madinah