Arsip Kategori: ::> Civil Society

Peran dan Posisi Intelektual di Masyarakat

Membicarakan peran dan posisi intelektual dalam masyarakat selalu menuai kearah pertanyaan siapakah intelektual. Membicarakan intelektual teringat atas ungkapan dari Dhaniel Kidae, “ bagaikan menggoreskan garis di atas air yang  mengalir.” Sangat sulit untuk diartikan ungkapan dari dhaniel dharma kidae. Namun, Muammar Kadafi menuturkan bahwa ungkapan ini yang membedakan antara intekektual dan non intektual.

Menurut Seymour Martin Lipset intelektual adalah yang menciptakan, menyebaluaskan, dan menjalankan kebudayaan,” Definisi ini berkaitan dengan suatu struktur dan fungsi sosial tertentu, berarti kita harus melihat peran dan posisi intelektual dalam masyarakat. Bicara mengenai peran dan posisi intelektual juga tidak bisa tidak dilepaskan dari kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan.

Sebuah pandangan mahasiswa indonesia  merujuk kepada kemerdekaan dan reformasi. Pada masa itu , muncul sebuah strata sosial yang disebut dengan istilah masyarakat madani. Starata ini terdiri dari lapis masyarakat yang lebih terdidik, dikirim ke pesantren,sekolah, dan perguruan tinggi dengan tujuan khusus untuk merubah negri ini.

Berkaitan dengan posisi inteltual dalam masyarakat , ada dua pendekatan yang muncul . Dua pendekatan tersebut melihat intelektual sebagai kelas dalam masyarakat, yakni:

Pertama, Pendekatan yang menempatkan intelektual sebagai kelas pada dirinya sendiri. Pendekatan ini meletakkan intelektual berposisi di atas angin. Pendekatan yang kerap disebut dengan benda-isme ini merujuk pada pandangan julien benda yang termuat dalam pengkhiatan kaum cendikiawan. Dia mengatakan bahwa terdapat anatomi antara kekuasaan dan kebenaran, dimana mencari kebenaran adalah pekerjaan kaum intelektual.

Kedua, pendekatan yang mengangap kaum intelektual merupakan bagian dari kelas itu sendiri. Pendekatan ini berakar dari pemikiran Antonio Gramsci. Gramsci menyatakan bahwa “ semua orang adalah intelektual , namun tidak semua orang mempunyai fungsi intektual dalam masyarakat.” Gramsci Membagi Beberapa Tigologi intelektual:

  1. Intelektual Tradisional, yakni intelektual yang menyebarkan ide dan berfungsu sebagai mediator antara massa rakyat dengan kelas atasnya.
  2. Intelektual organik, yakni kelompok intektual yang mempunyai badan penelitian dan studi yang berusaha memberi refleksi atas keadaan namun terbatas untuk kepentingan kelompoknya sendiri.
  3. Intelektual kritis, yakni intelektual yang mampu melepaskan diri dari hegemoni penguasa elite kuasa yang sedang memerintah dan mampu memberikan pendidikan alternatif untuk proses pemerdekaan.
  4. Intelektual universall, yakni tipe intelektual yang berusaha memperjuangkan pemanusiawian dan humanisme serta dihormatinya harkat manusia.

Sedangkan obsesi Gramsci sendiri adalah bagaimana massa rakyat atau siapa saja bisa menjadi intelektual partisipan, yakni intelektual yang ikut dalam suatu kelas tertindas dan berusaha bersama-sama dengan kelompok tersebut untuk melakukan perubahan atas realitas yang menindas mereka dengan seluruh aksi politis dn pendidikan penyadarannya.

 

Oleh/; Bang_Ainur (Kader PMII PMH)

Sumber :Arizal Mtahir dalam . Intelektual Kolektif Pierre Bourdie, dan Mutji Sutrisno, Antara budaya dan Masyarakat.

 

Iklan

Amerika Negeri Islami?

Oleh: Akhmad Kusaeni

Indonesia harus bangga memiliki Syamsi Ali, imam asal Bulukumba yang menjadi jurubicara Muslim di Amerika Serikat. Ia adalah penyiar Islam di negara adidaya yang sekarang sedang berperang melawan terorisme, yang celakanya sering dikait-kaitkan dengan Islam.

Syiar Islam dan dakwah Ustadz Syamsi Ali (40), tidak terbatas kepada jemaah warga Indonesia saja, melainkan juga Muslim Amerika. Khususnya di New York dan Washington DC. Selain sebagai imam pada Islamic Center, masjid terbesar di New York, Syamsi Ali juga dipercaya menjadi Direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York yang dikelola komunitas Muslim asal Asia Selatan, seperti Bangladesh, Pakistan dan India.

Lanjutkan membaca Amerika Negeri Islami?

Agama dan Masyarakat Madani

Oleh: Dawam Raharjo

Berbagai pemikiran yang dilontarkan akhir-akhir ini di seputar civil society, -yang di Indonesia telah diterjemahkan menjadi “masyarakat sipil” atau “masyarakat madani” itu-, sebenarnya merupakan imbas dari perkembangan pemikiran yang terjadi di dunia Barat, khususnya di negara-negara industri maju di Eropa Barat dan Amerika Serikat, dalam perhatian mereka terhadap perkembangan ekonomi, politik dan sosial-budaya di bekas Uni Soviet dan Eropa Timur. Namun di kawasan bekas Blok Sosialis yang sedang dilanda badai liberalisasi dan demokratisasi itu, berbagai kalangan akademisi juga mulai tertarik untuk membicarakan konsep lama ini. Di Indonesia, -dalam kaitannya dengan konsep masyarakat sipil ini-, kita lebih banyak berbicara mengenai demokratisasi politik atau liberalisasi ekonomi, semacam glasnots dan perestroika seperti yang merebak di Rusia pada dasawarsa ’80-an.

Lanjutkan membaca Agama dan Masyarakat Madani