Arsip Kategori: ::> Politik

Memaknai Kembali Nasionalisme dan Patriotisme

Sebelum mendiskusikan terkait nasionalisme dan patriotisme, perlu dipahami terlebih dahulu tentang apa yang melatarbelakangi perlunya sifat dari dua paham diatas.

Bangsa adalah suatu hal yang memunculkan sifat nasionalis dan patriotis, jadi perlu kiranya untuk mengetahui apa arti dari sebuah bangsa.

Bangsa adalah wilayah komunitas dari tanah kelahiran. Seseorang dilahirkan kedalam suatu bangsa. Signifikansi yang dicirikan pada fakta biologis kelahiran berkembang ke dalam sejarah, struktur territorial dari komunitas kebudayaan atas bangsa adalah mengapa bangsa merupakan salah satu di antara sejumlah bentuk kekerabatan. Ia berbeda dari bentuk kekerabatan lain seperti keluarga karena sentralitas territorial. Ia juga berbeda dari komunitas kewilayahan lain seperti suku, negara kota, atau berbagai ‘kelompok etnis’ lain, tidak sekedar karena keluasan wilayah yang lebih besar, namun juga karena budaya yang relative seragam, menyediakan stabilitas yang berkelanjutan seiring dengan waktu.[1]

Definisi bangsa diatas tidak bisa dipahami dengan sekilas saja, perlu pemahaman yang lebih mendalam tentang pengertian dari bangsa yang ditawarkan oleh Steven Grosby.

Ada tiga komponen kenapa suatu kumpulan masyarakat dinamakan bangsa. Pertama, Waktu, dalam pembentukan sebuah bangsa dibutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena kesadaran kolektif yang dibangun membutuhkan waktu yang panjang dan banyak melewati kejadian-kejadian yang nantinya akan menumbuhkan kesadaran bersama. Seperti adanya perang melawan Belanda, Sumpah pemuda dan lainnya merupakan sebuah rangkaian kejadian yang secara perlahan-lahan menumbuhkan semangat senasib seperjuangan. Komponen waktu ini –ketika suatu pemahaman masa lalu membentuk bagian dari masa kini- merupakan karakteristik bangsa dan disebut sebagai ‘kedalaman tentang waktu’. Kedua, Ingatan, banyaknya rangkaian kejadian yang dilalui bersama, semakin membentuk rasa kebersamaan antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga ingatan-ingatan akan kejadian masa lalu membentuk sebuah relasi. Selain itu, kesamaan bahasa karena terbentuk oleh adanya ingatan terhadap apa yang didapatnya memberikan pemahaman kepada dirinya mengenai perbedaan dengan kelompok lain yang berbicara dengan bahasa berbeda. Maka, bangsa adalah hubungan sosial dari kesadaran diri kolektif. Dan Ketiga, wilayah, tindakan mencari dan menempatkan suatu klaim ke masa lalu beserta lokasinya menciptakan keberlanjutan antara masa lalu itu dan lokasinya dengan masa kini beserta lokasinya. Keberlanjutan ini dipandang sebagai pembenaran tatanan masa kini karena ia dipahami sebagai dengan semestinya telah mengandung masa lalu. Seseorang dengan cara demikian mengakui dirinya merupakan bagian dari wilayah tersebut yang memiliki masa lalunya, pada situasi seperti ini , keberadaan suatu masyarakat yang dibentuk oleh kewilayahan dan diyakini akan bertahan seiring dengan waktu; dan inilah apa yang dimaksudkan dengan istilah bangsa.

Ringkasnya, bangsa adalah relasi teritorial dari kesadaran diri kolektif terhadap durasi aktual maupun imajinasi.

Nasionalisme dan Patriotisme

Dari adanya pemahaman tentang kesadaran kolektif kedepannya akan memunculkan semangat Nasionalis dan Patriotis.

Dalam arti sederhana, nasionalisme adalah sikap mental dan tingkah laku individu atau masyarakat yang menunjukkan adanya loyalitas atau pengabdian yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya.[2]

Dalam mendefinisikan perkataan “Nasionalisme”, Stanley Benn menyebutkan, paling tidak, lima hal: (1) semangat ketaatan kepada suatu bangsa (semacam Patriotisme); (2) dalam aplikasinya kepada politik, “nasionalisme” menunjuk kepada kecondongan untuk mengutamakan kepentingan bangsa sendiri, khususnya jika kepentingan bangsa sendiri itu berlawanan dengan kepentingan bangsa lain; (3) sikap yang melihat amat pentingnya penonjolan cirri khusus suatu bangsa, dan, karena itu; (4) doktrin yang memandang perlunya kebudayaan bangsa untuk dipertahankan; (5) nasionalisme adalah suatu teori politik, atau teori antropologi, yang menekankan bahwa umat manusia, secara alami, terbagi-bagi menjadi bangsa dan bahwa ada kriteria yang jelas untuk mengenali suatu bangsa beserta anggota bangsanya.[3]

Namun yang harus dipahami adalah Nasionalisme adalah suatu bentuk Kebanggaan dan kecintaan kita terhadap bangsa dan negara tidak berarti kita merasa lebih hebat dan lebih unggul daripada bangsa dan negara lain. Kita tidak boleh memiliki semangat nasionalisme yang berlebihan (chauvinisme) tetapi kita harus mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan bekerja sama dengan bangsa-bangsa lain. Jadi Nasionalisme dapat juga diartikan:

  1. Nasionalisme dalam arti sempit adalah suatu sikap yang meninggikan bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana mestinya. Sikap seperti ini jelas mencerai-beraikan bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Keadaan seperti ini sering disebut chauvinisme.
  2. Sedang dalam arti luas, nasionalisme merupakan pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain.

Selanjutnya, pengembangan daripada nasionalisme adalah patriotisme. Patriotisme adalah cinta yang dimiliki oleh seseorang terhadap bangsanya.[4]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian dari Patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya; semangat cinta tanah air.

Reakluatisasi Nasionalisme dan Patriotisme dalam konteks ke-Indonesiaan

Semangat keagamaan yang tidak diimbangi dengan semangat kebangsaan akan memunculkan paham-paham radikal dan ekstrim. Padahal, adanya bangsa Indonesia bukan atas jasa satu agama tertentu saja. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan nilai toleransi harus betul-betul ditekankan kepada benak kita masing-masing.

Selain itu, Apabila kita melihat kenyataan sekarang, khususnya generasi muda, sangat terlihat jelas pudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme. Sebagian besar generasi muda seperti malu dengan budayanya sendiri dan bangga dengan budaya bangsa lain. Sangat sulit kita menemukan anak-anak muda yang bangga menunjukan identitasnya.

Pudarnya semangat ini bila penulis lihat, karena ketidaksiapan kita mengahadapi era globalisasi dan keterbukaan informasi. Apabila terus dibiarkan, suatu saat nanti, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang gagal identitas. Bagaimana mungkin akan tumbuh sifat nasionalis dan patriotis apabila tidak mengenal bangsanya sendiri?

Menjadi tugas kita bersama untuk segera mengatasi hal tersebut sebelum menjadi lebih parah. Karena apabila kita hanya berdiam, sama saja kita menghianati cita-cita pendiri bangsa ini.

[1] Steven Grosby, Nationalism, ( Terjemahan Teguh Wahyu), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, Hal 9

[2] Azyumardi Azra, Demokrasi, HAM, dan Masyrakat Madani. hal 32

[3] Nurcholish Madjid, Islam, Kemodernan dan KeIndonesiaan, Bandung. MIZAN, 2013. Hal 53

[4] Steven Grosby, Nationalism, ( Terjemahan Teguh Wahyu), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, Hal 21

Penulis: Ade (Hukum Keluarga)

Konstitusi Piagam Madinah

Piagam Madinah, juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (kemudian bernama Madinah) di tahun 622. Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut Ummah.

Lanjutkan membaca Konstitusi Piagam Madinah

Merenda Benang Kusut KNPI (KNPI bagian 2)

Oleh: Munawar Fuad

Komite Nasional Pemuda Indonesia, KNPI jadi dua. Kalo Naga Bonar Jadu Dua, seperti Film terbarunya, makin segar, lucu dan untung. Momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 2008 terlukai karena ada dua Kongres Pemuda. Sebelumnya pun ada Dua KNPI Pusat. Menuju solusi bersama telah diupayakan lewat Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) pada 23-25 Juli 2008, namun malah melahirkan konflik baru.

Berlanjut, sampai terlaksananya Kongres Ancol, konflik di tubuh KNPI makin seperti benang kusut. Dilanjutkan dengan Kongres Bali yang prosesnya juga melengkapi kekusutan dan hasilnya makin memperkeruh kerumitan. Benang kusutnya seperti benang sutra yang halus dan tak berujung. Kalau tak hati-hati dan serampangan penyelesaiannya, bisa putus dimana-mana.

Lanjutkan membaca Merenda Benang Kusut KNPI (KNPI bagian 2)

KNPI Jadi Dua, Solusinya? (KNPI bagian 1)

Oleh: Munawar Fuad*

Di tengah peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober 2008, KNPI alias Komite Nasional Pemuda Indonesia, kok jadi dua ? KNPI terpecah dan terbelah. Pemuda Indonesia lagi berseteru. Sebaiknya KNPI dibubarkan saja. Atau, keduanya dileburkan, lalu Kongres KNPI kembali digelar dengan Kongres Luar Biasa. Setidaknya, itulah beberapa letupan keprihatinan, duka dan juga amarah dari kondisi obyektif adanya dua kongres dan dua kepengurusan DPP KNPI saat ini. Saya yang pernah ikut mengabdi di KNPI, turut berduka cita pula. Jika masalah ini tak terselesainya, di tengah kesempatan peluang bagi peran kebangsaan dan demokrasi yang terbuka lebar, maka KNPI akan kehilangan memontumnya mengisi perubahan negeri ini. Dengan segala keyakinan, artikel ini pun saya tulis untuk membuka wacana ke tengah publik, lalu berharap terbangun kesadaran bersama, bahwa pemuda memang menjadi sumber solusi, bukan sumber masalah. Pemuda akan mampu mengatasi masalah kebangsaan saat teruji juga mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Lanjutkan membaca KNPI Jadi Dua, Solusinya? (KNPI bagian 1)

Kepak Sayap NU

Oleh: Moh. Samsul Arifin

Menarik batas. Begitulah yang dilakukan Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi saat berpidato di puncak peringatan Hari Lahir ke-82 Nahdlatul Ulama (NU) di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta (3/2) yang dipadati puluhan ribu warga NU. Hasyim meminta nahdliyin untuk tidak terjebak tarik-menarik kepentingan politik, dalam kerangka pilkada atau pemilu. “Warga NU harus menjaga persatuan dan kesatuan dalam kerangka ukhuwah nahdliyah. Tidak boleh terbawa arus kepentingan politik. Jangan sampai warga nahdliyin dan ulama NU terpecah belah,” ujarnya.

Beralasan apabila Hasyim mengumandangkan seruan tersebut. Pasalnya, sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia, NU selalu menjadi magnet bagi partai politik di Tanah Air. Di setiap momen politik elektoral, pilkada dan pemilu, warga NU selalu dilirik dan bahkan dipinang parpol, kandidat bupati, walikota, gubernur dan bahkan presiden/wakil presiden. Berkacalah pada pemilu presiden/wapres tahun 2004.

Lanjutkan membaca Kepak Sayap NU

Adu Kuat Gus Dur dan Kiai NU

Oleh: Rumadi

Konflik Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan kiai-kiai NU masih terus berlangsung. Konflik itu sendiri dipicu oleh rencana Gus Dur untuk mereposisi Saifullah Yusuf dari jabatan Sekjen PKB. Konflik itu terus berkembang dan mengkristal menjadi konflik Gus Dur dengan kiai NU. Penulis sendiri sebenarnya merasa agak berat menarik konflik PKB sebagai konflik Gus Dur dan kiai NU. Namun, pelan-pelan kita amati bahwa konflik tersebut telah merembet pada jantung kekuatan NU karena melibatkan kekuatan dan tokoh-tokoh yang menjadi “pemilik” NU.

Tidak seperti lazimnya, kehendak Gus Dur yang biasanya diamini (atau minimal dibiarkan) kiai-kiai NU, kini justru ditentang habis-habisan. Tidak tanggung-tanggung, kiai-kiai yang berseberangan dengan Gus Dur adalah tokoh-tokoh yang selama ini menjadi kekuatan inti Gus Dur.

Lanjutkan membaca Adu Kuat Gus Dur dan Kiai NU