Arsip Kategori: ::> Ekonomi

Kenapa ‘Kita’ Selalu Miskin?‎

Oleh: Muhammad Fahdi

Sebuah pertanyaan mendasar yang wajib dijawab jika ingin merubah nasib. Tapi pun juga tidak mungkin dijawab dengan sederhana, karena kemiskinan kita tidaklah sesuatu yang sederhana. Tidak hanya miskin ekonomi, tapi juga miskin mental, miskin motivasi, miskin ilmu, miskin segalanya.

Ada sebuah statemen menarik, ‘kualitas hidup tergantung dari tantangan yang diciptakan’. Dari sinilah kemiskinan kita, tidak ada tantangan hidup yang membuat kita ingin meningkatkan kualitas hidup. Kita selalu terpaku pada tantangan yang rendah, tentu saja kualitas pun juga rendah, dan semakin rendah seiring tanpa perubahan. Tapi apa mungkin terjadi perubahan itu?

Lanjutkan membaca Kenapa ‘Kita’ Selalu Miskin?‎

Iklan

Indonesia Butuh Banyak Tenaga Ahli Ekonomi Syariah

Oleh: Anonim

Indonesia sebagai negeri muslim terbesar masih membutuhkan banyak tenaga ahli ekonomi syariah yang sayangnya belum bisa dipenuhi oleh NU. Demikian keprihatinan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj ketika membuka Pelatihan Pengelola & Penggerak Lembaga Keuangan Mikro Syariah di Gedung PBNU, Senin 14 Juni 2010.

“Menurut BI, kebutuhan tenaga ahli ekonomi syariah sekitar 16 ribu orang”, papar Kyai Said.  Untuk itu, PBNU menyambut baik kegiatan Pelatihan Pengelola dan Penggerak Lembaga Keuangan Mikro Syariah yang difasilitasi oleh Lembaga Perekonomian NU (LPNU) dan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LP2NU).

Lanjutkan membaca Indonesia Butuh Banyak Tenaga Ahli Ekonomi Syariah

Perekonomian Rakyat Makin Tergusur

Oleh: Abdul Mun’im DZ

Naiknya harga produk hulu seperti bahan bakar, tepung terigu, kedelai dan minyak goreng telah merontokkan usaha hilir yang merupakan usaha rakyat. Naiknya harga tersebut telah lama membuat industri roti gulung tikar, perusahaan krupuk juga kemudian ikut tersengat melambungnya harga terigu dan minyak goreng. Kemudian disusul ambruknya produksi tahu dan tempe ketika tiba-tiba harga kedelai impor melonjak.

Apalagi dengan kenaikan harga minyak tanah hingga melebihi harga di negara pengimpor minyak itu, tidak hanya kalangan perusahaan rakyat yang tertekan, kalangan rumah tangga pun semakin tidak berdaya mengatasi lambungan harga semacam itu. Mereka juga tidak mengkonversi ke gas, tetapi mengkonversi ke kayu bakar. Bayangkan jika penduduk Jakarta yang sumpek itu memasak dengan kayu bakar dari puing bangunan.

Lanjutkan membaca Perekonomian Rakyat Makin Tergusur

Meneguhkan Kembali Konsep Produksi Dalam Ekonomi Islam

Oleh: AM. Hasan Ali

Pertanyaan mendasar yang dapat diajukan pada kesempatan kali ini adalah sebuah pertanyaan yang dapat merangkum pemahaman kita tentang konsep produksi secara komprehensif yang kesemuanya diacukan pada paradigma berfikir yang dilandasi oleh nilai-nilai yang bersifat normatif dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pijakan utamanya. Pertanyaan tersebut berupa; apa yang dimaksud dengan produksi? mengapa harus ada produksi? bagaimana cara berproduksi? dan apa yang menjadi tujuan produksi?

Penulis memberi judul makalah ini dengan “Meneguhkan Kembali Konsep Produksi dalam Ekonomi Islam” sekedar bertujuan agar dapat menggugah kembali para peminat kajian ekonomi Islam, baik dari kalangan akademisi ataupun dari kalangan praktisi, untuk lebih berapresiasi dalam memahami konsep produksi secara islami. Pemahaman terhadap konsep produksi selama ini lebih banyak bersifat materialistis (kebendaan) dan diarahkan pada pencapaian sesuatu yang hanya diukur oleh nilai-nilai yang terkadang menjadikan kita -sebagai pelaku ekonomi- mengalami ketergantungan untuk mengejar material-material yang dihasilkan dari proses produksi tersebut.

Lanjutkan membaca Meneguhkan Kembali Konsep Produksi Dalam Ekonomi Islam

Independensi BI Terhimpit Kepentingan Politik

Oleh: Dody Ardiansyah

Sejak diberlakukannya UU No 23/1999 tentang Bank Indonesia 17 Mei 1999 lalu, BI telah ditempatkan sebagai lembaga keuangan negara yang independen dan bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak mana pun.

Dengan statusnya itu BI mempunyai otonomi penuh dalam merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya, termasuk menolak atau mengabaikan intervensi dalam bentuk apa pun dari pihak lain.

Lanjutkan membaca Independensi BI Terhimpit Kepentingan Politik

Tinjauan Politik Hukum Perbankan Syariah di Indonesia

Oleh: Muhammad Budi Setiawan

Sejak diberlakukannya UU No. 7/1992 tentang Perbankan, maka keberadaan bank syariah dalam sistem perbankan di Indonesia sebenarnya telah diakui dan dikenal. Bahkan, dapat dikatakan bahwa UU No. 7/1992 ini merupakan pintu gerbang dimulainya perbankan syariah di Indonesia. Namun demikian, UU tersebut belum memberikan landasan hukum yang cukup kuat terhadap pengembangan bank syariah karena belum secara tegas mengatur mengenai keberadaan bank berdasarkan prinsip syariah, melainkan bank bagi hasil.

Sementara itu, pengertian bank bagi hasil yang dimaksudkan dalam undang-undang tersebut belum mencakup secara tepat pengertian bank syariah, yang ternyata memiliki cakupan yang lebih luas dari bagi hasil itu sendiri. Termasuk belum adanya ketentuan operasional yang secara lengkap mengatur kegiatan usaha bank syariah hingga tahun 1998.

Lanjutkan membaca Tinjauan Politik Hukum Perbankan Syariah di Indonesia

Ketidakberdayaan Zakat Sebagai Pengurang Kemiskinan

Oleh: Ach. Bakhrul Muchtasib

Zakat merupakan salah satu unsur penting dalam sistem ekonomi berdasarkan syariat Islam. Menurut para pemikir Islam, ekonomi akan tumbuh dan berkembang dengan baik bila zakat sebagai suatu sistem kehidupan ekonomi berjalan, tumbuh, berkembang dan berjalan sebagaimana mestinya.

Untuk menciptakan keadilan sosial ekonomi di dalam bermasyarakat, instrumen zakat merupakan salah satu jawaban yang akan dapat mewujudkan semua itu. Zakat dapat menjadi penunjang pembangunan ekonomi masyarakat. Karena di dalam instrumen zakat tercipta semangat tolong menolong (ta’awun), dan mengandung unsur pemenuhan kewajiban individu untuk memberikan tanggung jawabnya kepada masyarakat.

Lanjutkan membaca Ketidakberdayaan Zakat Sebagai Pengurang Kemiskinan